Minggu, 30 Desember 2012

Suatu pagi... [3 November 2012]

Ini di suatu pagi. Dan aku mengingatmu. Bukan karena pagi ini istimewa, namun karena kau mengistimewakan setiap waktu yang ada.

Lelaki yang ku kasihi.

Pukul 01.00
Aku terbangun dan mulai menyuratkan kata perkata ini dalam catatan harian yang selalu ku dekap. Tentangmu.

Sayang, pastikan kau sedang lelap bersamamu malammu.
Sadarkah dari sini aku sedang "menggambarkanmu"?
Aku kah yang sedang ada bersama mimpimu?
Aku kah yang ada dalam nafas yang kau tarik malam ini?
Sayang, sedang aku mata pun tak jua lelah.
Menatap mu dari kejauhan sini.
Berteman dentang jam dinding si atas kepalaku.
Aku masih melukismu dalam selembar kertas ini.

Sayang, lelaki yang kubanggakan.
Yang selalu menjadi tujuan tergilaku diakhir nanti.
[aku yakin kau pasti marah bila kau tau ini]
Bersamamu ku pastikan aku bahagia.
Bagai sepasang mempelai di atas pelaminan.
Kau tau sayang? Bahagia ku melebihi itu.
Tapi tak akan ada seorang pun yang tahu.
Karena bahagiaku hanya milikku saja.

Sayangku yang ku kasihi.
Kali berapa dengkur yang sudah kau hembuskan malam ini?
Pertanda lelahkan menhadang hari?
Atau seumpama melodi yang menemanimu mengusik malam?
Hehe kau tau? Bagiku dengkurmu lagu pengiring tidur sepanjang malam.
Dan aku suka membiarkan malam ku habis menatapmu sampai larut,
Lelap dalam dekapan tidurmu.

Sayang, terlalu dini.
Dan aku paling suka menemanimu tidur.
Menghabiskan malam berdua.
Bercerita tentang waktu-waktu terpisah yang kita genggam di hari kemarin.
Mengemasnya dalam perjalanan yang hendak kita satukan.
Membawa masing-masing potongan kisah yang hilang.
Menjadikannya satu. Utuh, bersamamu.
Pahamkan sayang? Kau tau aku gila sendirian tanpamu.

Sayangku, tak tau sudah berapa menit yang kuhabiskan untuk melukiskanmu.
Kau masih lelap saja ternyata.
Tidak terusik dalam goresan tintaku.
Kau memang raja tidur yang pernah ku kenal.

Sayang, semua yang terbaik selalu kuberikan.
Menjadi wanitamu yang luar biasa itu yang selalu ku lakukan.
Kau tau? Hampir aku lupa berbuat untuk diriku sendiri.
Hampir aku lupa, aku sedang berbenah diri.
Karena semua yang kulakukan untuk menjadi yang terbaik untukmu.
Berbenah diri. Berlari meski aku tau kau selalu menggandeng ku.
Menggenggam tanganku, erat. Berjalan bersama.
Menyetarakan langkah.
Agar aku mampu bersanding seimbang denganmu.

Sayang, masih lelapkah?
Masih aku kah yang ada bersamamu dalam malammu?
Agar aku bisa menyusulmu.
Dan kita bermimpi tentang hari.
Tentang esok.
Tentang kita.



Bandung, 3 November 2012.
Yang terkasih.

2012

30 Desember 2012. Sehari sebelum aku betul-betul menutup tahun dengan sejuta keluar biasaan ini. Semua berawal dari malam yang dibuka di awal tahun kemarin, hingga dihantarkan pada penghujung ini. Ya, penghujung lagi. Bersama 1 tahun, 364 hari telah berlalu. Bersama cerita yang selalu berganti mengisi lembar perjalanan ini. Tibalah pada akhir yang tidak akan pernah sama dengan waktu-waktu yang telah berlalu.

27 jam sebelum semuanya berakhir, dan aku terpaku di depan layar kacaku. Mencoba membawa pikiran terbang pada masa-masa silam yang telah berjalan. Langkah mengesankan yang selalu menghiasi hari. Ini sungguh luar biasa. Perjalanan "terpanjang" yang pernah ada dalam hidupku. Pelajaran dan pengalaman tetap menjadi guru dan pemateri yang paling abadi sepanjang masa. Semua masih mampu direkam ulang oleh memori.

Ini akan menjadi sebuah kisah yang tidak akan pernah mati. Dalam 12 yang berbeda, 52 yang tidak pernah terulang kisah, dan 365 yang selalu berkesan. Pertanda bahwa, kekuatan diri mampu membawa perjalanan ini semakin jauh melaju.

Januari yang tangguh,
Februari yang romantis,
Maret yang tekun,
April yang hampir jenuh,
Mei yang tak kenal lelah,
Juni yang terus bangkit,
Juli yang memporakporandakan semangat,
Agustus yang basah oleh curahan keringat yang selalu ingin berlari,
September yang tak akan terlupakan,
Oktober dalam balutan paket kado yang indah,
November yang selalu berkutat,
dan Desember yang indah.

12 yang tidak pernah sama, tidak ada yang terlewatkan. Menjadi paket yang selalu mengejutkan, selalu memberi isyarat bahwa perjalanan ini tidak pernah biasa-biasa saja untuk pribadi yang haus dalam pembenahan dirinya.

Merenung lagi. 12 telah menyelesaikan tugas terbaik yang pernah ada dalam 2012.
Lalu apa yang bertumbuh dalam tahun ini?

Kedewasaan?
Pembenahan diri?
Kematangan berpikir?
Kematangan sikap?

Adakah semua telah mencapai garis batas yang telah ditetapkan?
Hanya aku yang paling mengerti diri, dan mampu menjawab pertanyaan sederhana ini.


Selalu menjadi kunci untuk tidak pernah diam berbenah diri. Aku tau, tahun sudah memberi pelajaran banyak, dan selayaknya selalu bertumbuh bersama hari-hari yang semakin memekar.

2012 telah selesai, lalu apakah akan sama dengan 2013?

Minggu, 16 Desember 2012

Darahku, Darah Pertiwi...


Biar dikata aku orang ranah seberang.
Darah pertiwi mengalir bersama darahku.
Bergandengan sejuta darah yang dilahirkan dalam Pertiwi.
Menyatukan ragam tak terbendung megahnya.
            Biar dikata Pertiwi gundah.            
            Eka dalam Khatulistiwa agung berkumandang.
            Tanah air menjadi elok dalam balutan biru.
            Jagad menyatu dalam goresan pena tak tergantikan.
Di luar kita dikenal.
Dengan hijau sawah yang berserakan.
Kolam susu yang tak pernah mengering.
Berselaput zamrud abadi, melintang dalam bujur yang luas.
            Darahku, darah pertiwi.
            Turunan nenek moyang yang hidup dalam laut bebas.
            Dengan sekoci kecil berlayar menjelajah ranah.
            Tumbuh bersama jutaan darah lainnya.
Darahku, darah pertiwi.
Merah dan putih menjadi satu dalam keberagaman.
Bhinneka menjadi Tunggal dalam perbedaan.
Garuda ganas mencengkeram kekayaan.
Darahku, darah pertiwi.
Tak jua sirna dalam pandangan mata.
Walau Pertiwi bercumbu dalam kemelut.
Darah merah deras menyatu dalam tumpukan ego terbinasakan.
            Darahku, darah Pertiwi.
            Menempah permata dalam kilauan emas yang subur.
            Bertahta dalam tanah surga, hidup meski dengan cangkul dan jala.
Darahku, Darah Pertiwi.
Darah merah dilapisi putih yang kokoh.
Dipeluk Pertiwi dalam keagungan.
Abadi dalam keberadaan.
Darahku, Darah Pertiwi…

Bandung, Desember 2012
Octavia Nasution

Senin, 10 Desember 2012

Karena Kita Bebas!


Kita bebas!
Serukan erat dalam nadimu.
Bukan dengan ikatan bazoka yang mengarat.
Bukan dengan dentuman senapan yang memburu.
Kita bebas!
Suarakan sampai bergema.
Biar luruh segala gentar.
Ini era berbeda.
Bambu sudah usang, mungkin saja sudah diabadikan.
Kita tak butuh perang untuk menang.
Kita tak perlu darah untuk bertahan.
Kita perlukan kekuatan untuk bangkit.
Berguru pada sejarah yang menghitam.
Meninggalkan nafas. Pun berlari mengejar.
Kita masih punya pena dan carikan kertas.
Walau hampir mengusang.
Pengganti bambu runcing untuk hidup.
Percuma merah mengalir bersama darah.
Putih menancap lekat pada daging.
Jika jiwa tak ada ubah dengan bangsa tindasan.

Kita bebas!
Menyuarakan suara. Mengumandangkan diri kita.
Jangan mau ditindas dalam kekalahan.
Kita bebas!
Bebas bercerita. Mengangkat muka. Berderajat dalam barisan.
Memandang dunia. Menjadi besar di dalamnya.
Jangan lengah dalam abad yang semakin mendera.
Di manja zaman yang tak menentu kalang.
Pun terlupakan segala sirna menyembunyikan lara.
Kita masih punya utang yang tak terlunaskan.
Membuka tanah, menanam benih untuk dituai.
Jangan kalah dengan era ini.
Sisihkan ruang menderu dalam udara.
Bukakan rongga untuk menghembuskan kebebasan.
Sura-sura asing bisa mencekik.
Mematikan langkah.
Lepaskan saja peluru ke angkasa.
Biar asa ditebar dalam haru biru yang menganga.
Biar gemuruh menandai kegilaan.
Biar tanah bergetar oleh derap langkah serdadu masa kini.
Karena kita bebas!
Kita bebas dalam dunia.


Bandung, 2012
Octavia Nasution.

Kamis, 06 Desember 2012

Aku mencintaimu. Sungguh...

Aku mencintaimu. Sungguh.
Meski kasta menjulang tinggi.
Dan tembok membatasi kokoh.

Ak mencintaimu. Sungguh.
Lebih mencintaimu.
Meski dengan tasbih yang selalu kau bawa mati.
Berbeda dengan liontin bermata Salib yang ku kenakan sepanjang hidupku.
Aku mencintaimu. Lebih.

Aku mencintaimu.
Tak peduli kita selalu berpisah dalam perjalanan.
Kau masuk ke dalam Kubah
dalam kesucian Wudhu yang kau mandikan.
Sedang aku berdiam di depan Alatar yang agung.
Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu. Sungguh.
Serupa ayat-ayat yang kau kumandangkan dalam Sholatmu.
Tak jua berbeda layaknya Kitab yang selalu ku genggam dalam dadaku.
Sungguh aku mencintamu.

Aku mencintaimu.
Di dalam Tuhanku, ku titipkan namamu.
Adakah aku kau titipkan pada Tuhanmu?



Bandung, 7 Desember 2012.



Dari sebuah ruang bernama Hati

Ini malam seribu bintang.
Entah malam ke berapa yang ku habiskan
Setelah memekarkan sebuah ruang
Beratap kasih yang terukir
Dan kisah singkat yang teralaskan di dalamnya.

Menatap elok kepada pemilik mata elang.
Pun tak tau akan berujung seperti apa kelak.
Ku titipkan bingkaian taman kasih
Berbalut dongeng-dongeng penyempurna kata.

Tak terusik. Dari seberang yang menenggelamkan suara.
Tetap rintih menanti datangnya semburat merah.
Meraih tangan, menopang dagu yang tak terkendalikan.
Gelora yang berkecamuk di dalam sukma.
Seperti api berteriak di dalam sekam.

Seruan dari dalam. Lolong panjang pemberi pertanda.
Tak jua mengerti. Sedang pikir semakin jauh menepi.
Dari sebuah ruang yang bernama Hati.
Ku bungkus kasih berbalut sayang.
Ku lemparkan ke tengah lautan.
Biar jauh di bawa pergi.
Hingga tiba di peraduan terakhir.


Bandung, 7 November 2012.

Rabu, 05 Desember 2012

Ego

"Kau saja marah, dikala burung tak bernyanyi lagi.
Di kala tak ada alunan di pagi buta.
Bagaimana dengan aku?
Menjamahmu dalam hening.
Sedang kau riuh dalam dunia mu sendiri.
Seperti tak tak terjelmakan kah aku olehmu?
Pun aku, bagaimana tidak ternaikkan pitam menghitam dalam dada?
Ketika riuh nada bersahut-sahutan tak ada syair yang kau naikkan.
Malam merindumu. Mendengar senandung di bawah temaram rembulan.
Begitupun aku. Merindumu. Merindu lafasmu."

Panggung Sandiwara

dan aku mulai gelagapan
dengan kertas-kertas buram yang berserakan.
mengapa tak kau tanggalkan saja kasutmu
dan kita mulai bermain peran?

Apa peduli dengan kata orang.
Omong kosong dengan petuah.
Tak usah hirau burung gereja bernyanyi.
Telan bersama darah hingar bingar.

Laut dan tanah saja mencibir.
Sudah masuk saja dalam panggung hitam.
Pun orang tak mengenalmu.
Mainkan saja peran.
Mulai kumandangkan narasi.

Sandiwara sudah kau kenakan?
Kepalsuan sudah kau pasang erat?
Mari, marilah.
Kertas kertas buram menganga.
Peran ini memang pantas buatmu. 

Gegaskan.
Panggung sudah penuh keluh, gundah, tawa, dan maki.
Lakon kan peranmu.
Ini panggung Sandiwara.
Jangan adukan dengan duniamu.

Ini panggung Sandiwara.
Sandiwara menjadi Sutradara.
Siap kah kau bermain?
Peran ini memang pantas buatmu. 


Bandung, 5 Desember 2012



Senja di Ujung Langit


Lamat-lamat bayangmu menghilang|
Mencari tak menemuka. |
Kau lupa? |
Kita berjanji pada senja di ujung langit |
Menggenggam pasir puith |
Bersama 39 detik lembayung jingga merekah.

Memabukkan |
Melupakan |
Melupakan janji |

Janji yg terkunci bersama senja di ujung langit |
Menyusuri tepian pantai. |
Sedang bayangmu hampir memudar. |
Ak sendiri. |

Janji manusia semu |
Pun demikian senja di ujung langit |
Semu |
Memudar hilang.

Tak jua ak lelah dlm semu. |
Ku rekatkan diri pd senja di ujung langit |
Melebur dlm kesemuan |
Dipeluk jingga brcmpur deru ombak. |

Kegilaan |
Berharap pada semu |
Kecewa pada Senja di ujung langit tenggelam |
Menghilang. |
Di telan malam. |
Sedang ak masih sendiri brsm bayangmu yang retak bersatu dgn pasir pantai.
Menghilang |
Mentari pagi belum berwujud |
Tersesat di pekatnya gelap. |

Dalam kerangka petang yang menjerat. |
Senja di ujung Langit melepas hari. |
Malam menjemput gelap. |
Pagi menanti terang. |
Menunggu |
Tak mampu berjalan |
Tersesat |
Sampai menghilang. |

Biarlah berakhir pada kesudahannya. |
Biarlah 39 detik kebersamaan lepas bersama kenangan. |
Kenangan abadi dalam hati |

Senja di Ujung Langit..


Bandung, November 2012

Senin, 03 Desember 2012

Air dan Api

Air tidak akan menyulut api.
Sebelum bara menghantam lara.
Relakan api terbang bersama tiupan angin.
Biar kembali beriak bersama air tenang.

Bukan tak mau beraksi.
Menikam gelombang yang dalam.
Hanya saja tak jua rela
Melihat debu lelah ketika api tak kunjung diam. 

Api berkobar, menebar bau segala penjuru.
Meninggalkan abu yang tak sempat besalaman
dengan bara yang asik bertiupan dengan angin.

Tak jua lelah.
Sampai habis raga disapu debu yang menghitam.
Menuggu pancaran yang menenangkan gundah. 

Biar, biarkan kita bersatu.
Dalam air dan api.
Seperti riak dan asap.
Tak akan berhenti ketika berdua-dua saling beradu...


Bandung, 4 Desember 2012

Jumat, 30 November 2012

Bunda...

Bunda, apa kabarmu? Apa kabar serumpun bunga anggrek yang kita tanam di halaman kala aku menghabiskan sisa liburanku kemarin? Bagaimana dengan bayi kecil kita yang selalu mengusik tidur malammu? Adakah semuanya menanti kepulanganku?

Bunda, aku di sini baik-baik saja. Berbekalsetonggak nasehat yang kau tancapkan, kandas di hatiku. Aku masih terus berbenah.

Bunda, aku selalu ingat. Kau sering bersenandung, bilang anak manis tak boleh menangis, sesulit apapun jalan ini, air mata tak akan pernah menjadi celah penyelesaian. Anak manis tak boleh menangis. Anak manis harus kuat. Anak manis harus tangguh. Kau anak manis kesayanganku, tetaplah tersenyum. Bunda selalu ku dekap, senandungmu dikala jalan ini seakan menusuk. Kata-katamu Bunda, seperti semilir angin. Menjadikan segalanya damai.

Bunda sedang apa kau? Mungkin sekarang kau sedang didepan kelasmu. Dengan seragam kebangganmu. Aku pastikan kau sangat cantik hari ini. Bunda, Aku sedang di depan meja kerjaku. Menanti jam pulang. Tapi berkas-berkas ini mengganggu kepalaku, merengek. Aaah sedang ak tak pernah merengek kepada Bundaku.

Bunda, nanti aku pulang. Setelah ku selesaikan perjalananku ini. Aku rindu, Bunda. Adakah kau selalu merindukanku?

Jakarta, 2012.

Aku tau, sedang bunga pukul 4...

Aku tau, sedang bunga pukul 4 enggan menciut
di kala hari mulai meredup.
Enggan menutup kelopak mata.
Lebah masih saja menggelayut di ketiak.
Tak peduli terpaan angin mengusik.
Bertahan sampai pukul 4 habis bersamaan
dengan matinya hari.

Keranda kosong betebaran. Menanti waktu gelap.
Menebar jala di jalanan.
Barangkali kerikil-kerikil busuk menjadi santapan manis
di kala nasi tak bisa di tanak lagi.

Omong kosong dengan mu.
Kata-kata patut habis di makan anjing.
Ah sedang anjing jijik menatapmu.
Layaknya buronan, lebih baik diam, raib.
Sel-sel besi menjadi teman. Matilah kau.

Aku, Sedang bunga pukul 4 enggan beranjak.

Kamis, 29 November 2012

Malam Mengering

Rembulan pun kini tak bening lagi | 
ketika kau pergi dan berucap "ak tak akan meninggalkanmu" | 
Ya, itu katamu malam kemarin. | 
Rembulan tepat di antara kita. | 
Kau bergegas pergi. | 
Padahal malam, masih erat mendekapmu. | 
Ah sudahlah. | 
Lalu aku berjalan. | 
Setelah kita berpisah dipersimpangan. | 
Ku balikkan badan. | 
Menikmati panorama mu sampai hilang d ujung jalan. | 
Lenyap disapu malam. |
Begitupun, malam matangnya selalu mampu menyamarkan segala rasa.

Bandung, November 2012

Malam Mengering.

Pun malam kian mengering. | 
Angin saja tetap berlalu menatap kebekuan. |  
Sampai malam. | 
Kau tanya aku. | 
"Baik?" | 
Masih baikkah aku dalam balutan luka yang mengarat? | 
Rintih batin.
Malam, tinggal kita.
Hanya kita yang tetap asik dalam percakapan tanpa suara. | 
Hening. | 
Sebelum betul-betul tengah malam. | 
Sebelum kita pulang. | 
Dalam diam. | 
 Kubisikkan pada angin satu nama. | 
Dan angin akan memeluk satu nama. | 
Namamu. | 
Dalam tidurmu.

ORANG-ORANG BUANGAN

Puisi duet dengan seorang lelaki luar biasa, Mifta Holis.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Orang-orang buangan. |
Tersisih dalam keberadaan. |
Menempatkan diri dalam ruang yang menyesak.

Manusia tidak perduli |
Dunia tidak perduli |
Tuhan? |

Tuhan mendengar   |
Menjerit dalam doa yang tertahan. |
Pun bernafas serasa menanggung hutang.
Bertanya. |
Mengapa? |
Tidak ada jawaban |

Tak ranah, tak raga, tak harga terbuang. | 
Hanya tinggal menjadi buangan. |
Seperti apa ini?
Bertanya. |
Bertanya | 
Tak mau menjadi buangan |
Bukan sampah |
Bukan hewan |

"Kami bukan orang orang buangan" |
Seruan nafas tercekik |
Yang dianggap hina penjerat. |
Sampai habis darah. |
Tak ada lelah. |

Bangsat |
Pandangan manusia.tidak bisa dibendung | 
Orang-orang buangan tetap dalam buangan |

Mengapa tak serukan perang saja! |
Orang-orang buangan tetap menjadi buangan. |
Lemah dalam keberadaan. |
Geram dada memberontak. |

Tak berdaya |
Berdoa |
Berharap |
Lelah |
Tak berkesudahan |

"Ini ranah kita." |
Orang-orang buanganmenjadi-jadi dalam seruan tercekik |
Apa daya? Pun harap terkikis jajahan. |

hinakah orang-orang buangan? |
nista mereka yang memiliki pandangan |

Jajahan hina! |
Tanah Surga menjadi rebutan, orang-orang rakus. |
Orang-orang buangan menjadi budak di rumah sendiri. |
Tak kenal diri. |

Orang-orang buangan tak sadar diri mereka buangan |
Selamanya tersisih dalam keberadaan. |
Tersuruk |
Mencoba berlindung |
Dunia tidak bersahabat |
Manusia lain memburu |
Hendak berlari kemana? |
Segala serupa sekam siap menerkam. |
Tak ada ruang berteduh. |

Pun akhirnya, orang-orang buangan tetap menjadi buangan...

Bandung-Medan, 22 November 2012.






Sepenggal kisah tentang Langit.

tentang LANGIT ku :-)

dalam hening mencoba tuk berpikir sejenak
berpikir tentang siapa aku,
berpikir tentang hidupku,
berpikir tentang kisahku,
berpikir tentang perjalanan yg sedang ku lalui ini

sedikit banyakny
langit sudah memberiku secercah hamparan biru dengan segala harapan2 di dalam nya

langit sebagai rumahku berlindung,
langit sebagai bahu sandaran keluhku,
langit sebagai nyanyian lantunan nadaku,
langit sebagai satu satunya tempat aku mengenalmu :-)

aaah, begitu dalam aku mencintai langit
dengan semua keistimewaan yang dihadapkan padaku
bagaimana tidak aku tergila2 padanya??

melalui langit
aku menemukan hidupku yang bahagia,
diriku dengan keanggunan nya,
kisahku dengan alur dan tokoh2 hebat didalam ny,
perjalanan panjang ku dengan setiap perjuangan di dalam nya.

sekali lagi langit memanjakan aku dengan semua pesona yang ada dalam ny,
membuatku semakin jatuh ke dalam,
ke dalam cinta yang aku berikan padanya :-) :-)

[aku sajak tanpa nada pecinta langit]

JEJAK LANGKAH

dia berjalan
meninggalkan bekas semu
terpahat kuat di tanah
------------------------------------

berapa mili lagi
harus ku tempuh
untuk mengejarmu
menyetarakan langkahku dan langkahmu?

seperti orang kesetanan
kau berlari
apa yang kau kejar?
mengapa tak bersama kita berlari?
ilalang ilalang menahan kakiku
tapak kakiku tertancap di pasir putih

tidak kah kau mendengar
aku berteriak memanggilmu?
urat urat nandiku nyaris terbelah karenamu
tapi tetap tak kau hiraukan
bahkan menoleh pun tidak :'(

berlari terus berlari
semakin jauh
langkahmu meninggalkan langkahku
apa yang kau kejar?
jejakmu seolah ikut denganmu
tak adakah bekas yang kau tinggalkan
di ranah ini untukku?

langkahku tertatih
tak ada ku temukan jejakmu di ranah ini
tersesat aku
sedang engkau sudah jauh berlalu

:-)

[shekinah village, depok 16.30pm, 12th March 2011]

REMANG MALAM


remang malam

aku satu,sendiri
berjalan di antara pilar2 lampu,
berdiri kokoh
bersinar menemani perjalananku

aku satu,sendiri
di antara batu2 yang
tertawa melihat kesendirianku
di antara kerikil2 busuk
yang dengan senyum picik
mengejek aku,
di antara daun2 liar yang bergoyang
menjalar menghina aku
ntah apa yang ada di pikiran mereka,

aku satu,sendiri
mencoba untuk tetap berjalan
melewati setiap petak jalan yang di hadapkan padaku.
jalan seolah menjadi musuh bebuyutku
apa maumu?
bahkan aku tidak mengerti ke mana jalan akan membawaku

aku satu,sendiri
mencoba memecahkan teka-teki jalan ini,
mengumpulkan puzzle2 cerita
yang berlari meninggalkan aku

namun aku satu,
masih tetap sendiri dan akan terus sendiri
sampai jalan ini
memberiku suatu jawaban
penghapus sepiku
kekasih hatiku

aku satu,sendiri
masih terus berjalan
dibawah sinar rembulan yang menjadi teman malamku,
dibawah ketatny penjagaan bintang2 yang menjadi pasukan malamku
memastikan aku
tetap berjalan di jalan ku

aku satu,sendiri
berjalanterus berjalan
hingga ku temukan jawaban
di ujung jalan ku

:-)

Aku, Kosong tak bernilai.

aku, kosong tak bernilai
terbangun dari mimpiku
mencoba meraih cakrawala,
merangkak mencapai langit biru
tapi apa daya?

aku, kosong tak bernilai
di antara lembah keputusasaan
dan jurang kematian.
akankah ada air kehidupan
menyelamatkan aku,
menarik aku bersama alirannya?

aku, kosong tak bernilai
kecil di antara titik titik
yang tertancap di catatanmu,
hina di antara anjing-anjing jalanan
yang menggonggong menghentakmu

aku, kosong tak bernilai
terperangkap di dalam terali hatimu,
tersesat di dalam alur cintamu
akankah kau melepasku dari ikatan nadi
yang mengikat ku erat?


aku, kosong tak benilai
kota kembang, 9.15am 22nd March 2011
octavia dwimayasari nasution :-)

HENDAK KE MANA?

hendak ke mana engkau akan terbang?
kala hamparan biru tak rela warnanya luntur karenamu,
sayap-sayap surga tak ingin kau bergabung dengan mereka

hendak ke mana engkau akan menepi?
kala deru ombak menghadang,
pasir putih pun tak mau jadi labuhanmu.

hendak kemana engkau akan berlari?
kala kerikil2 tajam menyandung kakimu,
lalang menahan,
tanah gersang bahkan tak menyediakan daratan kosong bagimu

hendak ke mana kau akan bersandar?
kala sepoi angin senja tak mampu lagi membelaimu,
lembayung kuning tak sanggup menaungi mu

hendak kemana engkau bersimpuh?
di kala kubah tak lagi memberi kedamaian bagimu,
altar tak menghidangkan ketenangan bagi jiwamu

langit
menggunjing,
air mencibir,
tanah menolak,
angin menghempas

pagi tak lagi menyapa,
siang tak lagi menyinari,
senja tak lagi bersenandung,
malam tak lagi menemani.

hendak ke mana lagi?

Riwayat Seteguk Kopi


ini hanya sebuah percakapan abstrak ku dengan secangkir kopi di senja itu

aku dapat menyaksikan heran yg amat dalam terukir dalam bola matanya ketika aku mulai meneguknya,
ya mengapa tidak?
secangkir kopi hanyalah pelepas dahaga
tetapi kenapa seorang gadis ini begitu menggilainya? gumam nya mungkin dalam hati

seperti pasrah atau rela atau mengikuti takdirnya, dia mengalir begitu saja memasuki mulutku, melewati setiap rongga2 dalam tenggorokan ku

[glek glek]
hei, tidak cukup banyakkah aku mengisi ruang mu?

[glek glek]
cukup, aku ingin bebas, disini terlalu gelap
biarkan aku menikmati setiap asap dan aroma q!
teriak ny lbh kencang

seolah tak mempedulikan nya,
secangkir kopi habis merayap ke dalam tubuhku
melintasi setiap sudutnya
meresap ke dalam pori2ny

sedap!
gumamku perlahan
tanpa menoleh sedikit pun
pada setetes cairan kopi yg trtinggal dalam cangkir itu
seolah meraung2 "hei, lebih baik mndrita d dalam daripada sendiri di sini tanpa mereka"



dalam hening di kota kembang, 23.50

Bocah-Bocah Kecil

Bocah-bocah kecil

Tadi, di tepi hariku.
Meredup. Berjalan satu aku.
Bocah itu menatapku.
... Tersenyum manis.
Polos matanya.
Lembut bibirnya.
Ku dengar sayup "Hendak ke mana Kakanda manis?"
Ku tatap matanya.
Balas tersenyum.
"Aku ingin menjumpai Senjaku", jawabku.
"Senja? Siapakah gerangan dia? Pastilah dia orang yang sangat beruntung,
bertemu bidadari jelita ini".
Kembali senyumnya mematikan langkaku.
Aku tertawa. Hening. Lanjutnya
"Bolehkah sebentar saja Kakanda manis ini menemaniku.
Sebelum berjalan menemui Senjamu itu?"
"Tentu saja sayang." Simpul kecil itu masih menggantung.
Meraih tanganku. Membawaku sejenak menduakan Senjaku.

Bocah-bocah kecil, bermain di tanah lapang.
Layang-layang terbang di awang-awang.
Bocah-bocah kecil bercengkeramah tanpa dosa,
Tak sadar hari esok memakan tawanya.
Bocah-bocah kecil berlari berkejaran.
Tak tau musuh mengintai di semak hijau.
Bocah-bocah kecil, tumbuh.
Akan bertambah besar.
Adakah bahagia hari esok seperti kemarin?
Bandung, 07 Nov 2011
salam manis buat bocah kecil di sore tadi :)

KERAMAT

Pelihara lidah, agar kau tak tertelan dalam silatnya.

KERAMAT

Kata pagi kau BURUK.
Tetesan putih yg gugur
menggelayut manja dalam jemari itu,
menjadikannya indah.

Sura sura parau dalam surau di Subuh tadi
membuka, membuatny nyata.
Keranda kosong di sisi jalan,
Lolong getir tak bernafas,
Penghuni2 tanah menari, menyatukan desis2 keluh
yang tak bernadi.
Menyisakan isak isak bayi tak bernoda.




Kota Kembang dalam balutan pagi yang sendu, 9.16
octa_nst

6.30 di Dermaga.

Pagi ini, seperti percakapan udara tadi malam.
Kita berjanji di tempat ini.
6.30 di dermaga,
Sebelum kapal pertama berlabuh.

Masih terlalu pagi.
Jam ku meraba 5.00 WIB dan aku berdiri menatap biru.
menunggu mu, tepat seperti percakapan udara kita tadi malam.

Sengaja aku datang pagi-pagi buta menarik air laut.
Sebelum kita berlabuh meninggalkan kota ini.
Terakhir kali, menikmati embun dan fajar merekah.

30 menit bercumbu dengan subuh.
Selagi matari belum nakal.
Selagi pagi masih terlalu rentan.
Mengendalikan gelora dalam dada.
Menyisir udara pagi sendirian.
Beku bersama kota ini.
Ya kota ini sayang.
Aku mengingat hari itu. 5 tahun yang lalu.

5 tahun kebersamaan dalam kasih.
Perjalanan cinta bersamamu.
Kau tau sayang, aku bahagia.
ini 5 tahun paling indah dalam hidupku.

15 menit selanjutnya menyusul.
Pesan singkatmu mengejutkanku.
Buyar lamunan.

-Sudah siap?
Pesan singkatmu menggurat senyum.
Kau tak pernah berubah.

-Aku selalu siap bersamamu, sayang.
Pesan balasan terkirimkan.

-Tunggu, aku segera datang.
Pesan singkatmu terakhir.

15 menit selanjutnya kembali datang.
Aku menunggu.
Seorang dengan pesan singkat.
Seorang lelaki yang aku cintai.
Bersama ufuk yang mulai naik.
Biru semakin memekar.
Dermaga mulai ramai. Sedari tadi memang ramai.
Hanya aku yang asik dengan plot yang sedang ku peta2kan.

Aku kembali pada jam2 yang kita habiskan tadi malam.
Sebelum akhirnya kita pusatkan pada tempat ini.
Ini rencana gila kita.
Berlayar jauh.
Meninggalkan kota ini.

"Di seberang sana, kita punya mimpi sayang." ucapmu.
"Membangun perjalanan baru. Kita punya mimpi di sana."

Aaaah, kau lelaki gila!
Kegilaanmu membuatku jatuh.
Ini perjalanan pertamaku membawa mimpi.
Bersamamu, mimpi itu ada.

Lagi 15 menit berlalu.
Kupandangi Kota ini erat-erat.
Bersama semburat bayangmu
Yang mucul pelan-pelan di tengah dermaga.
Aaah lelaki kebanggaanku.
Lambaian tangan memberi pertanda.

 15 menit terakhir. tepat 6.30 di dermaga.
Kota ini bukan tempat kita.
Kita akan berlayar, bersama mimpi yang kita rangkai.



6.30 di dermaga.
Dan kita buka perjalanan baru...


---------------------------------------------------------

 Bandung, 30 November 2012.

Seperti ini rinduku.

Aku rindu.
 Padamu, pada hari kemarin yang kita lewati bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada sepotong kisah yang pernah kita tulis bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada setapak jalan yang biasa kita jadikan titian untuk melompat bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada kolong langit yang dulu kita jadikan siluet terindah menerka hari esok bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada senyum yang tak pernah mati terukir di wajah kita nikmati bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada semua kebersamaan kita.

Aku rindu.
Padamu. Adakah rindumu kau hadirkan untukku?


Bandung, 20 Agustus 2012

Kamis, 01 November 2012

DESEMBER


Desember ku dalam masa yang berbeda-beda.

Di Desember kita bertemu. Mendayung perahu, berlayar ke danau seberang. Di Desember kita bertemu, di tahun-tahun yang lalu, ketika senyum dan tatapan hangat teduh terpahat dalam dekapan. Di Desember kita bertemu sampai waktu habis memberi jarak. Di Desember aku menjumpaimu. [Desember 2008]

Setahun berlalu. Kembali ke Desember. Kemarin di Desember aku menjumpaimu. Hampir saja, jarak dan waktu memberi ruang pada kita. Namun tetap dalam sebatas genggaman. Hampir di Desember kali ini aku menemuimu. Dengan sebakul cita dan asa yang kau pikul di belakang pundakmu. Hampir saja, di Desember ini aku merangkulmu. Desember kali ini berbeda, waktu memperkecil jarak, menghapus bayang. Desember kali ini memang indah. [Desember 2009]

Desember ketiga. Kali ini jauh di luar lingkarku. Desember ini aku tenggelam, hilang di sandaran palung paling rendah. tergopoh-gopoh mencari pusaran air. Biarkan berputar dalam lingkaran setan yang menyiksa. Desember ketiga dalam waktu yang berbeda. Riakan air menghanyutkan raga. [Desember 2010]

Desember ketiga. Kali ini jauh di luar lingkarku. Desember ini aku tenggelam, hilang di sandaran palung paling rendah. tergopoh-gopoh mencari pusaran air. Biarkan berputar dalam lingkaran setan yang menyiksa. Desember ketiga dalam waktu yang berbeda. Riakan air menghanyutkan raga. [Desember 2010]

Pada langit aku berseru. Hari-hari menjepit, waktu semakin gencar menekan, meremukkan tulang. Langit, sepertinya sudah lama kita tidak bercerita, bercengkeramah di antara arakan awan memutih di angkasa sana. Langit aku rindu. Melihat mu merentang menanti cerita ku tentang biru, tentang dia, tentang kita. [Desember 2011]

Sudah lama kita tidak melakukan ini. Menjemput malam bersama, menariknya dalam peraduan. Menumpahkan segalanya sampai lebur dalam pekatnya. Tak terlihat, namun ada. Terasa dari dalam sini. Sudah lama kita tak melakukan ini. Berbisik menembus batas-batas yang tak tersentuh. Hingga malam larut, terbenam dalam gelapnya. Ya, sudah lama kita tidak melakukan ini. :) [Desember 2011]

Sayap-sayap patah. Ketika puan menari, berputar di atas gundukan porak poranda tepukan tangan. Lalu bagaimana mungkin kelihatan indah ketika satu saja sayap itu terluka? Bagaimana mungkin satu yang lain dapat melengkapinya? Bagaimana mungkin puan-puan dapat melenggok di atas pentas? Sayap-sayap patah kemarin petang masih menggantung gemulai di antara jemari2 nan elok. Hari ini ntah ke mana dia. [sayap-sayap patah] #terinspirasi dari hari kemarin ketika puan-puan cantik itu berlatih mengitari altar. [Desember 2011]

Kali ini dalam Senja. Di persimpangan tadi aku melihatnya. Mereka berbicara tanpa kata, tanpa suara, bergeming dalam lorong-lorong kebisuan. Mereka berbicara, fasih. Dalam sentuhan mata, dalam gerak-gerak bermakna sesuatu tersampaikan. Ternyata tak perlu kata dan suara untuk berbicara. [Desember 2011]

Segalanya untuk-Mu. Bahkan dalam sisa nafas yang mengalir diperjuangkan untuk-Mu. Terimakasih Bapa untuk detik-detik yang menyesakkan, perburuan dengan waktu, penyempurnaan setiap petak-petak kaki ini. Terimakasih, segalanya untuk-Mu. Selamat Hari Minggu, Advent III. Gbus.[Desember 2011]

Kembali bersama alurnya. Seperti ini sangat indah bukan? Seperti cerita-cerita yang biasa kita rangkai. Seperti ini terasa lebih menyenangkan bukan? Tidak merasa asing dalam ruang-ruang yang dibangun. Meruntuhkan tembok, menghancurkan dinding-dinding yang menghalangi sentuhan. Sungguh seperti ini yang akan tetap dijaga, walau bergulir rasa, tak peduli waktu akan membawanya menjadi seperti apa. Kembali seperti ini, dalam secarik kertas yang kita tenun.[Desember 2011]

Desember keempat. Ditahun yang berbeda. Terasa jauh sekali, ketika aku sendirian di ranah ini. Desember keempaat. Ku pintakan pada waktu untuk memotong jarak-jarak yang telalu jauh memisahkan raga ini. Desember keempat, masih sendiri merayakannya. Desember minggu2 berikutnya. Hampir mati berlari mengejar waktu. Kali ketiga dalam Desember. Natal yang berbeda. Tiga kali tanpamu, tanpa suasana itu. Sungguh aku merindukannya. [Desember 2011]

Kado Natal terindah buatku, ketika mendengar kabar2 hebat seperti hari ini. Selamat buat kedua adik2 ku. Kalian menjadi kado2 istimewa bagiku. Peluk cium dari kakandamu. Aku mengasihimu. [Desember 2011]

Selamat Natal Pa'e Ma'e Kka Sies, Put, Abang, Kiki. Selamat Natal buat kamu sekalian yang tersayang. Peluk dan cium tersampaikan dalam doa yah. Selamat Natal semuanya. Damailah semua di malam ini dan puji Dia yang telah datang. Gbu ^_^ [Desember 2011]

Cukup untuk malam ini. Penutup yang luar biasa. Terimakasih untuk tempat seindah itu. Terimakasih untuk pesona yang luarbiasa. Terimakasih untuk sajian penutup yang istimewa. Terimakasih untuk malam ini. Ku tutup dengan sempurna. [Desember 2011]

Beberapa saat lagi. Lembar dengan hari-hari terbaik akan ditutup. Tidak usang. Namun beralih pada lembar baru dengan rencana-rencana yang tak tampak oleh kita. Sebentar lagi, segala yang telah terjadi berlalu. Tergantikan dengan mimpi-mimpi hari esok. Sebentar lagi, lembar baru dengan janji-janji yang jauh lebih indah akan dibuka. Siapkah kita menuliskannya lagi. Dengan kata-kata yang lebih mapan dan guratan-guratan yang jauh lebih kuat? [Bandung, 30 Desember 2011. Sesaat sebelum pergantian itu tiba.]

Dalam hitungan jam. Semuanya akan bergulir. Sejenak melihat ke belakang. Apa yang telah aku perbuat dalam waktu2 kemarin? Perubahan seperti apa yang telah aku lakukan dalam hidupku? Ada yang terbaik telah ku lakukan pada-MU, pada diriku, pada sekitarku? Mampukah aku menjadi berkat? Sudahkah aku dibentuk menjadi pribadi yang lebih peka dalam hidupku ini? Sejenak melirik serangkaian kisah2 yang telah terjadi. Berkesinambungan, tak lepas. Tawa, tangis, sakit, perih, luka, bahagia, suka, cinta, benci, kesal menjadi bumbu2 yang tak akan pernah lekang. Mempunyai kesannya sendiri, menyimpan makna yang berbeda-beda. Selalu menjadi cerita untuk hari esok. Sebelum akhirnya meninggalkan waktu ini, teduhkan diri untuk melepas semua garis hitam di masa yang lalu. Terimakasih Bapa, untuk serangkaian hari-hari terbaik dalam 2011 ku ini. Tetap dalam lingkar-MU aku menanti masa-masa pergantian ini. [Goodbye for the best 2011, Bandung the end of the year 31st December]

Puisi

Kata mu bercinta dalam puisi itu indah.
Lalu aku masuk diam-diam ke dalam kamar yang diam.
Sepi. Bisu.Tidak ada yang indah.
Ku cari api lalu kata menyambar. Wuuus.
Masih sepi. Bahkan kaku menghantam.
Perlahan ku rapatkan raga ke pojokan kamar.
Tak ku temui keindahan.
Hanya dinding-dinding kamar yang retak menatapku kosong.
Lagi lagi sepi yang menghampiri.
Lalu seperti apa indahnya cinta ini?
Ku labuhkan hati pada kertas ini.
Berbicara lewat potonga tinta hitam.
Aaah, tidak ada ubahnya.
Hanya menambah pedih hati melihat sepi.

Kemarilah. Aku juga ingin bercinta bersamamu. Bersama puisi.

Bandung, Agustus 2012.

Seperti ini rinduku


Aku rindu.
Padamu, pada hari kemarin yang kita lewati bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada sepotong kisah yang pernah kita tulis bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada setapak jalan yang biasa kita jadikan titian untuk melompat bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada kolong langit yang dulu kita jadikan siluet terindah menerka hari esok bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada senyum yang tak pernah mati terukir di wajah kita nikmati bersama.

Aku rindu,
Padamu, pada semua kebersamaan kita.

Aku rindu.
Padamu.

Adakah rindumu kau hadirkan untukku?

Bandung, 20 Agustus 2012

KALA

Kepada lelaki yang ku cinta. Kelak, suatu kala ku hadiahkan malam berselaput gelap bermata bulan ke padamu.

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Kala itu,

Mungkin saja kau lupa. Kala itu sebelum tanah mengambil peran. Berpisah. Kau titipkan sebaris puisi tak usai kepadaku. Sebagai ikatan pengganti hati yang tak bisa dibawa. Katamu "Kelak, sejauh apa pun tanah memisahkan kita, tak usah risau. Ada yang bisa kau dekap bersamamu. Meski hati tetap tak bisa terbang. Tapi ini, ikatan ini tak akan pernah lepas." Aku ikat ucapan bersatu dalam sebaris puisi yang mungkin tak pernah usai.

Kini,

Selalu, ku temukan kau dalam sebaris puisi yang mengusang. Hampir menua dalam deretan kata-kata klasik kesukaanmu. Boleh saja waktu memakan habis sampi busuk, namun kenangan tak akan pernah mati.

-Bandung, November 2012. KALA. :)