Desember ku dalam masa yang berbeda-beda.
Di
Desember kita bertemu. Mendayung perahu, berlayar ke danau seberang. Di
Desember kita bertemu, di tahun-tahun yang lalu, ketika senyum dan
tatapan hangat teduh terpahat dalam dekapan. Di Desember kita bertemu
sampai waktu habis memberi jarak. Di Desember aku menjumpaimu. [Desember
2008]
Setahun berlalu. Kembali ke Desember. Kemarin di
Desember aku menjumpaimu. Hampir saja, jarak dan waktu memberi ruang
pada kita. Namun tetap dalam sebatas genggaman. Hampir di Desember kali
ini aku menemuimu. Dengan sebakul cita dan asa yang kau pikul di
belakang pundakmu. Hampir saja, di Desember ini aku merangkulmu.
Desember kali ini berbeda, waktu memperkecil jarak, menghapus bayang.
Desember kali ini memang indah. [Desember 2009]
Desember
ketiga. Kali ini jauh di luar lingkarku. Desember ini aku tenggelam,
hilang di sandaran palung paling rendah. tergopoh-gopoh mencari pusaran
air. Biarkan berputar dalam lingkaran setan yang menyiksa. Desember
ketiga dalam waktu yang berbeda. Riakan air menghanyutkan raga.
[Desember 2010]
Desember ketiga. Kali ini jauh di luar
lingkarku. Desember ini aku tenggelam, hilang di sandaran palung paling
rendah. tergopoh-gopoh mencari pusaran air. Biarkan berputar dalam
lingkaran setan yang menyiksa. Desember ketiga dalam waktu yang
berbeda. Riakan air menghanyutkan raga. [Desember 2010]
Pada
langit aku berseru. Hari-hari menjepit, waktu semakin gencar menekan,
meremukkan tulang. Langit, sepertinya sudah lama kita tidak bercerita,
bercengkeramah di antara arakan awan memutih di angkasa sana. Langit
aku rindu. Melihat mu merentang menanti cerita ku tentang biru, tentang
dia, tentang kita. [Desember 2011]
Sudah lama kita tidak
melakukan ini. Menjemput malam bersama, menariknya dalam peraduan.
Menumpahkan segalanya sampai lebur dalam pekatnya. Tak terlihat, namun
ada. Terasa dari dalam sini. Sudah lama kita tak melakukan ini.
Berbisik menembus batas-batas yang tak tersentuh. Hingga malam larut,
terbenam dalam gelapnya. Ya, sudah lama kita tidak melakukan ini. :)
[Desember 2011]
Sayap-sayap patah. Ketika puan menari,
berputar di atas gundukan porak poranda tepukan tangan. Lalu bagaimana
mungkin kelihatan indah ketika satu saja sayap itu terluka? Bagaimana
mungkin satu yang lain dapat melengkapinya? Bagaimana mungkin puan-puan
dapat melenggok di atas pentas? Sayap-sayap patah kemarin petang masih
menggantung gemulai di antara jemari2 nan elok. Hari ini ntah ke mana
dia. [sayap-sayap patah] #terinspirasi dari hari kemarin ketika
puan-puan cantik itu berlatih mengitari altar. [Desember 2011]
Kali
ini dalam Senja. Di persimpangan tadi aku melihatnya. Mereka berbicara
tanpa kata, tanpa suara, bergeming dalam lorong-lorong kebisuan.
Mereka berbicara, fasih. Dalam sentuhan mata, dalam gerak-gerak
bermakna sesuatu tersampaikan. Ternyata tak perlu kata dan suara untuk
berbicara. [Desember 2011]
Segalanya untuk-Mu. Bahkan
dalam sisa nafas yang mengalir diperjuangkan untuk-Mu. Terimakasih Bapa
untuk detik-detik yang menyesakkan, perburuan dengan waktu,
penyempurnaan setiap petak-petak kaki ini. Terimakasih, segalanya
untuk-Mu. Selamat Hari Minggu, Advent III. Gbus.[Desember 2011]
Kembali
bersama alurnya. Seperti ini sangat indah bukan? Seperti cerita-cerita
yang biasa kita rangkai. Seperti ini terasa lebih menyenangkan bukan?
Tidak merasa asing dalam ruang-ruang yang dibangun. Meruntuhkan tembok,
menghancurkan dinding-dinding yang menghalangi sentuhan. Sungguh
seperti ini yang akan tetap dijaga, walau bergulir rasa, tak peduli
waktu akan membawanya menjadi seperti apa. Kembali seperti ini, dalam
secarik kertas yang kita tenun.[Desember 2011]
Desember
keempat. Ditahun yang berbeda. Terasa jauh sekali, ketika aku sendirian
di ranah ini. Desember keempaat. Ku pintakan pada waktu untuk memotong
jarak-jarak yang telalu jauh memisahkan raga ini. Desember keempat,
masih sendiri merayakannya. Desember minggu2 berikutnya. Hampir mati
berlari mengejar waktu. Kali ketiga dalam Desember. Natal yang berbeda.
Tiga kali tanpamu, tanpa suasana itu. Sungguh aku merindukannya.
[Desember 2011]
Kado Natal terindah buatku, ketika
mendengar kabar2 hebat seperti hari ini. Selamat buat kedua adik2 ku.
Kalian menjadi kado2 istimewa bagiku. Peluk cium dari kakandamu. Aku
mengasihimu. [Desember 2011]
Selamat Natal Pa'e Ma'e Kka
Sies, Put, Abang, Kiki. Selamat Natal buat kamu sekalian yang
tersayang. Peluk dan cium tersampaikan dalam doa yah. Selamat Natal
semuanya. Damailah semua di malam ini dan puji Dia yang telah datang.
Gbu ^_^ [Desember 2011]
Cukup untuk malam ini. Penutup
yang luar biasa. Terimakasih untuk tempat seindah itu. Terimakasih
untuk pesona yang luarbiasa. Terimakasih untuk sajian penutup yang
istimewa. Terimakasih untuk malam ini. Ku tutup dengan sempurna.
[Desember 2011]
Beberapa saat lagi. Lembar dengan
hari-hari terbaik akan ditutup. Tidak usang. Namun beralih pada lembar
baru dengan rencana-rencana yang tak tampak oleh kita. Sebentar lagi,
segala yang telah terjadi berlalu. Tergantikan dengan mimpi-mimpi hari
esok. Sebentar lagi, lembar baru dengan janji-janji yang jauh lebih
indah akan dibuka. Siapkah kita menuliskannya lagi. Dengan kata-kata
yang lebih mapan dan guratan-guratan yang jauh lebih kuat? [Bandung, 30
Desember 2011. Sesaat sebelum pergantian itu tiba.]
Dalam
hitungan jam. Semuanya akan bergulir. Sejenak melihat ke belakang. Apa
yang telah aku perbuat dalam waktu2 kemarin? Perubahan seperti apa
yang telah aku lakukan dalam hidupku? Ada yang terbaik telah ku lakukan
pada-MU, pada diriku, pada sekitarku? Mampukah aku menjadi berkat?
Sudahkah aku dibentuk menjadi pribadi yang lebih peka dalam hidupku ini?
Sejenak melirik serangkaian kisah2 yang telah terjadi.
Berkesinambungan, tak lepas. Tawa, tangis, sakit, perih, luka, bahagia,
suka, cinta, benci, kesal menjadi bumbu2 yang tak akan pernah lekang.
Mempunyai kesannya sendiri, menyimpan makna yang berbeda-beda. Selalu
menjadi cerita untuk hari esok. Sebelum akhirnya meninggalkan waktu
ini, teduhkan diri untuk melepas semua garis hitam di masa yang lalu.
Terimakasih Bapa, untuk serangkaian hari-hari terbaik dalam 2011 ku
ini. Tetap dalam lingkar-MU aku menanti masa-masa pergantian ini.
[Goodbye for the best 2011, Bandung the end of the year 31st December]