Jumat, 28 September 2012

Terikat lalu mati.

Terimakasih sudah menyediakan wadah bagiku.
Kali ini aku ingin bercerita. Sebentar saja. Tak peduli kau acuh. Tak peduli mungkin kau pongah setelah melahapnya. Kali ini bole aku curhat. Di luar sesak, barangkali di dalam sini ada teduh bagiku.

Terimakasih sudah menjadi sandaranku.
Aku ingat di siang kemarin. Dia menamparku -lagi-.
Tamparan itu. Tamparan lembut nun tajam kedua kali singgah dalam dadaku. Sesak kedua. Lebih pahit dari hari sebelumnya. Bukannya aku tidak ingin teriak, tangis, jerit. Aah bodoh sekali aku kelihatan lemah di depanmu wanita pongah.
5 tahun kelak kita bertemu katanya, mungkin saja kau akan jadi makanan jalanan atau tuan terhormat. 5 tahun kelak katanya. 5 tahun kelak aku akan menjumpaimu. Tidak peduli akan seperti apa aku jadinya. 5 tahun kelak. AKU IKAT RAPAT, KUNCI MATI PERCAKAPAN MU TADI SIANG, WANITA PONGAH yang aku tidak sengaja bertemu denganmu di ranah ini. Yang aku tidak tahu Tuhan ada rencana apa hingga pertemukan aku dengan wanita paruh baya yang teramat pongah itu.

Terimakasih sudah menyilakan aku untuk berucap-ucap. Terimakasih. Ini kali keberapa aku meniggalkan ranah itu. Kembali ke kota ini. Aku terikat dengan percakapan kemarin siang. Aaah, mengusik ku sekali. Ntah apa yang berputar-putar dalam kepalaku, tapi semua pada satu poros yang sama, pusat yang tak jauh berbeda. Masih dengan percakapan kemarin siang. Entahlah, yang jelas sempurna dia menguasai seluruh jagad pikirku. Aku diam. Beku juga dalam pikirku sendiri. Seorang-orang ku dalam keakuanku. Mengejewantahkan diri agar lebur dalam percakapan kemarin siang. AAh kau wanita pongah terlalu pongah, memaksa aku berlari, bersesak dalam juang, luruh bersama mimpi. Wanita pongah ku akui kau hebat.

Ini ucap terimakasih yang terakhir. Terimakasih sekali lagi sudah membaca curhatan yang tak berarti ini. Penuh lirih sebenarnya jika kau menyerapnya. Semoga segala rasa tercipta dalammu ketika meliriknya.

Bandung, 12 Mei 2012
salam manis

sajak tanpa nada, pecinta langit :)

Akhir sebuah perjuangan

TERIMAKASIH
[catatan ini saya persembahkan untuk "kamu"]

berawal dari suatu "perang" yang dihadapkan padaku, padamu, pada kita
berawal dari suatu hal kecil yang ternyata butuh perjuangan besar menaklukkan nya

dan berakhir dengan "satu kata"
satu kata yang terucap ketika aku benar2 menutup nya
satu kata yang terucap ketika ini selesai dan berakhir dengan senyum
satu kata yang terucap ketika aku benar2 melewatinya dengan sempurna bersamamu

sempurna dengan sejuta rasa didalam nya
sempurna dengan kisah2 yg tertulis karenanya
sempurna dengan tiap gelak tawa dan isak tangis yg kita torehkan untuk dia


sadarkah kawan kita sudah melaluinya
hal yang memang sudah memberikan banyak hal buat kita
tawa, tangis, kesal, jengkel, marah, bete, kecewa, benci, senaaaang,
aaaah
semua melebur menjadi satu,
luluh menjadi bagian yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelum nya

terimakasih buat "kamar2 kecil"
yang sudah menjadi suatu arena tempur buat kita
[makasih nona manisku :-)]

terimakasih buat sebuah tim yang HEBAT yang mana aku terlibat didalam nya
terimakasih buat sebuah keluarga besar yang LUAR BIASA yang menjadi bagian hidupku
terimakasih buat sebuah persahabatan MANIS yang kalian berikan untuk ku

terimakasih kawan buat semuanya,
terimakasih buat kerjasamanya
terimakasih buat kata SEMANGAT yang selalu berkumandang ditelingaku
terimakasih buat tawa yang selalu dihanturkan penyeka keringatku

terimakasih brodaku sayang
terimakasih sistaku sayang
TERIMA KASIH

ingat satu hal
"bertahan dalam perkara kecil, PERKARA BESAR menanti perjuangan kita"


aku mengasihi kalian semuaaaaanya
Tuhan berkati :-)

[salam manis untuk yang termanis dari aku sajak tanpa nada, kota kembang, 18.05 2 Maret 2010 :-)]

Hadiah Kecil untuk Mama

Ma, entahlah ini cukup untuk membalas segalanya.
Perjuangan pertama yang kita habiskan bersama, kita selesaikan bersama.
Ma, anggap sebagai sebuah kado kecil. Sangat kecil bila dibandingkan dengan berjuta perjuangan yang kau kukuhkan untukku.

Ma, sekarang aku berjalan. Melihat luasnya dunia. Melihat betapa kecilnya aku sekarang ini.
Seperti ini. Dengan segala kekuatanlu, aku mencoba berjalan sendirian. Sanggupkah?

Ma, aku takut, dengan sejuta mimpimu yang kau berikan untuuk. Menjadi harapan pertama. Sanggupkah aku?

Ma, mama terhebat seluruh dunia. Wanita luar biasa yang aku kasihi. Aku merindukamu.