Minggu, 16 Desember 2012

Darahku, Darah Pertiwi...


Biar dikata aku orang ranah seberang.
Darah pertiwi mengalir bersama darahku.
Bergandengan sejuta darah yang dilahirkan dalam Pertiwi.
Menyatukan ragam tak terbendung megahnya.
            Biar dikata Pertiwi gundah.            
            Eka dalam Khatulistiwa agung berkumandang.
            Tanah air menjadi elok dalam balutan biru.
            Jagad menyatu dalam goresan pena tak tergantikan.
Di luar kita dikenal.
Dengan hijau sawah yang berserakan.
Kolam susu yang tak pernah mengering.
Berselaput zamrud abadi, melintang dalam bujur yang luas.
            Darahku, darah pertiwi.
            Turunan nenek moyang yang hidup dalam laut bebas.
            Dengan sekoci kecil berlayar menjelajah ranah.
            Tumbuh bersama jutaan darah lainnya.
Darahku, darah pertiwi.
Merah dan putih menjadi satu dalam keberagaman.
Bhinneka menjadi Tunggal dalam perbedaan.
Garuda ganas mencengkeram kekayaan.
Darahku, darah pertiwi.
Tak jua sirna dalam pandangan mata.
Walau Pertiwi bercumbu dalam kemelut.
Darah merah deras menyatu dalam tumpukan ego terbinasakan.
            Darahku, darah Pertiwi.
            Menempah permata dalam kilauan emas yang subur.
            Bertahta dalam tanah surga, hidup meski dengan cangkul dan jala.
Darahku, Darah Pertiwi.
Darah merah dilapisi putih yang kokoh.
Dipeluk Pertiwi dalam keagungan.
Abadi dalam keberadaan.
Darahku, Darah Pertiwi…

Bandung, Desember 2012
Octavia Nasution

Tidak ada komentar:

Posting Komentar