Biar dikata aku orang ranah
seberang.
Darah pertiwi mengalir
bersama darahku.
Bergandengan sejuta
darah yang dilahirkan dalam Pertiwi.
Menyatukan ragam tak
terbendung megahnya.
Biar dikata Pertiwi gundah.
Eka dalam Khatulistiwa agung berkumandang.
Tanah air menjadi elok dalam balutan biru.
Jagad menyatu dalam goresan pena tak tergantikan.
Di luar kita dikenal.
Dengan hijau sawah yang
berserakan.
Kolam susu yang tak
pernah mengering.
Berselaput zamrud
abadi, melintang dalam bujur yang luas.
Darahku, darah pertiwi.
Turunan nenek moyang yang hidup dalam laut bebas.
Dengan sekoci kecil berlayar menjelajah ranah.
Tumbuh bersama jutaan darah lainnya.
Darahku, darah pertiwi.
Merah dan putih menjadi
satu dalam keberagaman.
Bhinneka menjadi Tunggal
dalam perbedaan.
Garuda ganas
mencengkeram kekayaan.
Darahku, darah pertiwi.
Tak jua sirna dalam
pandangan mata.
Walau Pertiwi bercumbu
dalam kemelut.
Darah merah deras menyatu
dalam tumpukan ego terbinasakan.
Darahku, darah Pertiwi.
Menempah permata dalam kilauan emas yang subur.
Bertahta dalam tanah surga, hidup meski dengan cangkul
dan jala.
Darahku, Darah Pertiwi.
Darah merah dilapisi
putih yang kokoh.
Dipeluk Pertiwi dalam
keagungan.
Abadi dalam keberadaan.
Darahku, Darah Pertiwi…
Bandung, Desember 2012
Octavia Nasution
Bandung, Desember 2012
Octavia Nasution
Tidak ada komentar:
Posting Komentar