Di
lantai dua. |
Bersama seorang teman dalam jangkauan yang sangat jauh. |
Berbentuk pesan singkat. |
Selalu ramai pikrnya akan hal-hal yang tak
pernah terjangkau. |
Aku saja tergopoh-gopoh ingin berlari bersamanya. |
Namun aku, langkah saja kecil-kecil. |
Setengah ingin setengah tidak. |
Padahal dia hanya diam, bersama pikiran-pikirannya yang kacau. |
Di
lantai dua kami sering bercerita. |
Tentang pikiran yang menggantung. |
Mungkin karena ak yang terlalu naif atau apatis. |
Tidak asik menjadi
lawan pikir. |
Di lantai dua yang selalu ramai. |
Aku selalu belajar
banyak. |
Meski tak paham apa maksudnya. |
Banyak tiang-tiang bersandar.
|
Menengadah sembari mulut menganga. |
Mencari tangan. |
Menjulurkan
lidah. |
Sedekah. |
Di lantai dua. |
Seperti itulah yang selalu
dikhawatirkannya tentang bumi manusia. |
Di lantai dua. |
[Bandung,
Oktober 2012]