Senin, 29 Oktober 2012

Lantai 2

Di lantai dua. | 
Bersama seorang teman dalam jangkauan yang sangat jauh. | 
Berbentuk pesan singkat. | 
Selalu ramai pikrnya akan hal-hal yang tak pernah terjangkau. | 
Aku saja tergopoh-gopoh ingin berlari bersamanya. | 
Namun aku, langkah saja kecil-kecil. | 
Setengah ingin setengah tidak. | 
Padahal dia hanya diam, bersama pikiran-pikirannya yang kacau. | 
Di lantai dua kami sering bercerita. | 
Tentang pikiran yang menggantung. | 
 Mungkin karena ak yang terlalu naif atau apatis. | 
Tidak asik menjadi lawan pikir. | 
Di lantai dua yang selalu ramai. | 
Aku selalu belajar banyak. |
 Meski tak paham apa maksudnya. | 
Banyak tiang-tiang bersandar. | 
Menengadah sembari mulut menganga. | 
Mencari tangan. | 
Menjulurkan lidah. | 
Sedekah. | 
Di lantai dua. | 
Seperti itulah yang selalu dikhawatirkannya tentang bumi manusia. | 
Di lantai dua. | 
 
[Bandung, Oktober 2012]