Puisi duet dengan seorang lelaki luar biasa, Mifta Holis.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Orang-orang buangan. |
Tersisih dalam keberadaan. |
Menempatkan diri dalam ruang yang menyesak.
Manusia tidak perduli |
Dunia tidak perduli |
Tuhan? |
Tuhan mendengar |
Menjerit dalam doa yang tertahan. |
Pun bernafas serasa menanggung hutang.
Bertanya. |
Mengapa? |
Tidak ada jawaban |
Tak ranah, tak raga, tak harga terbuang. |
Hanya tinggal menjadi buangan. |
Seperti apa ini?
Bertanya. |
Bertanya |
Tak mau menjadi buangan |
Bukan sampah |
Bukan hewan |
"Kami bukan orang orang buangan" |
Seruan nafas tercekik |
Yang dianggap hina penjerat. |
Sampai habis darah. |
Tak ada lelah. |
Bangsat |
Pandangan manusia.tidak bisa dibendung |
Orang-orang buangan tetap dalam buangan |
Mengapa tak serukan perang saja! |
Orang-orang buangan tetap menjadi buangan. |
Lemah dalam keberadaan. |
Geram dada memberontak. |
Tak berdaya |
Berdoa |
Berharap |
Lelah |
Tak berkesudahan |
"Ini ranah kita." |
Orang-orang buanganmenjadi-jadi dalam seruan tercekik |
Apa daya? Pun harap terkikis jajahan. |
hinakah orang-orang buangan? |
nista mereka yang memiliki pandangan |
Jajahan hina! |
Tanah Surga menjadi rebutan, orang-orang rakus. |
Orang-orang buangan menjadi budak di rumah sendiri. |
Tak kenal diri. |
Orang-orang buangan tak sadar diri mereka buangan |
Selamanya tersisih dalam keberadaan. |
Tersuruk |
Mencoba berlindung |
Dunia tidak bersahabat |
Manusia lain memburu |
Hendak berlari kemana? |
Segala serupa sekam siap menerkam. |
Tak ada ruang berteduh. |
Pun akhirnya, orang-orang buangan tetap menjadi buangan...
Bandung-Medan, 22 November 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar