inikah tanahku?
di hamparan zamrud katulistiwa
kutitip seuntai kata untukmu
----------------------------
inikah tanahku?
tanah yang dulu ku tapaki ketika aku berjalan di bawah naungan pagi bersama cilik-cilik kecil berseragam merah putih?
inikah tanahku?
di mana tangkai-tangkai kokoh menggantung kuat di atas bebatuan yang berserakan di bawahnya?
inikah tanahku?
tempat semerbak warna-warni menebar baunya,
menebar pesona kepada setiap jiwa yang menyusuri tanah ini?
berbeda!
aku bahkan tak mengenal tanah ku ini,
tanah tempat aku bermain bersama pohon-pohon elok, bersama dedaunan hijau yang jatuh mengapung di genangan air di tepi jalan ini.
panas membakarnya habis,
asap-asap beracun membungkusnya,
gerombolan sampah-sampah menggunung menenggelam kan nya.
aah,
ke mana tanah ku yang dulu?
tempat petani bergiat di hamparan hijau?
tempat perawan-perawan manis bercengkeramah menuju kali kecil di ujung tanah ini?
tempat kaki beriring-iringan menikmati setiap pesona yang ditawarkan?
adakah yang bertanggung jawab?
membawa balik tanah ku yang dulu?
tanah yang dititipkan ibu pertiwi padaku?
aku takut ibu pertiwi marah,
merampas kembali segala yang di wariskan kepadamu, kepadaku
lihat, wajah sendunya menangis
melihat segala yang terjadi.
tiada guna katulistiwa berbaris agung melewati tanah ku ini
bila mana tak satupun insan enggan menorehkan tangan,
sekedar menggenggam setiap gumpalan nya.
kota kembang, 12 April 2011
catatan kecil yang tak tersampaikan ke meja panitia. :'(
sebuah proses perjalanan seorang wanita sederhana. bahwa hidup adalah "perjalanan tiada akhir"
Kamis, 15 September 2011
Ambigu
sendiri,
terpojok,
tersudut,
tersungkur raga d keheningan ruang ini
berbisik pada dinding-dinding bata.
selalu,
tak tersampaikan ujaran yang berdesakan.
sosok bayang yang di nanti,
mengenal jiwa
menerka rasa yang mengalir.
kosong,
tiada hujat-hujatan yang saling menyiksa,
hanya rayuan yang menggema, menggelegar
menjalar
mencari tiang tancapan berteduh.
AMBIGU
kota kembang, 09Mei2011
terpojok,
tersudut,
tersungkur raga d keheningan ruang ini
berbisik pada dinding-dinding bata.
selalu,
tak tersampaikan ujaran yang berdesakan.
sosok bayang yang di nanti,
mengenal jiwa
menerka rasa yang mengalir.
kosong,
tiada hujat-hujatan yang saling menyiksa,
hanya rayuan yang menggema, menggelegar
menjalar
mencari tiang tancapan berteduh.
AMBIGU
kota kembang, 09Mei2011
Embun Pagi
ini masih terlalu pagi
untuk membuka mata,
di luar masih gelap
dari celah-celah kamar
terdengar sayupan sisa angin malam,
dingin, menusuk.
lolong kosong nya masih membekas.
terjaga di antara selebaran putih bernoda
"aaah ternyata aku masih di dalam "arena" yang sama", gumam ku
pagi mengejutkanku
dengan sapaan hangat yang biasa dia berikan padaku.
bergegas membangunkan badan.
tak berniat melewatkan segalanya
:-)
suatu pagi di kota kembang
octa_nst, 10Mei2011
untuk membuka mata,
di luar masih gelap
dari celah-celah kamar
terdengar sayupan sisa angin malam,
dingin, menusuk.
lolong kosong nya masih membekas.
terjaga di antara selebaran putih bernoda
"aaah ternyata aku masih di dalam "arena" yang sama", gumam ku
pagi mengejutkanku
dengan sapaan hangat yang biasa dia berikan padaku.
bergegas membangunkan badan.
tak berniat melewatkan segalanya
:-)
suatu pagi di kota kembang
octa_nst, 10Mei2011
Jumat, 09 September 2011
SEKIRANYA
:-)
sekiranya
dalam tetes hujan yang jatuh
aku dapat melihat engkau berdiri disampingku
maka pastikan
aku akan selalu mencari rinai hujan
untuk tetap dapat bersama di dekatmu
sekiranya
dalam aliran sungai aku dapat mendengar nyanyian mu
maka pastikan
aku akan selalu melewati sungai-sungai kecil
untuk tetap dapat berada dalam alunan nadamu
sekiranya
dalam desir angin yang berhembus
aku dapat berbisik halus dengan mu
maka pastikan
aku akan selalu melebur dalam angin
untuk dapat saling berbisik dengan mu
sekiranya
dalam pagi aku dapat mengecup mu
maka pastikan
aku selalu bersama fajar
untuk dapat membangunkan kecupan mu
sekiranya
dalam senja aku dapat melihatmu
maka pastikan aku akan selalu berdiri di penghujung hariku
untuk dapat melihatmu dan menenggelamkan hari bersamamu
sekiranya
dalam pekat malam aku dapat menyentuhmu
maka pastikan
aku tidak akan pernah terlelap dalam malamku
untuk dapat selalu dalam sentuhan mu
sekiranya
dalam doa aku menjadi lebih dekat dengan mu
maka pastikan akan selalu ada namamu dalam setiap doaku
sekiranya pun
dalam segalanya tetap tak ku temukan engkau,
maka pastikan aku selalu ada untukmu
octavia nasution
kota Kembang, 09Mei2011
sekiranya
dalam tetes hujan yang jatuh
aku dapat melihat engkau berdiri disampingku
maka pastikan
aku akan selalu mencari rinai hujan
untuk tetap dapat bersama di dekatmu
sekiranya
dalam aliran sungai aku dapat mendengar nyanyian mu
maka pastikan
aku akan selalu melewati sungai-sungai kecil
untuk tetap dapat berada dalam alunan nadamu
sekiranya
dalam desir angin yang berhembus
aku dapat berbisik halus dengan mu
maka pastikan
aku akan selalu melebur dalam angin
untuk dapat saling berbisik dengan mu
sekiranya
dalam pagi aku dapat mengecup mu
maka pastikan
aku selalu bersama fajar
untuk dapat membangunkan kecupan mu
sekiranya
dalam senja aku dapat melihatmu
maka pastikan aku akan selalu berdiri di penghujung hariku
untuk dapat melihatmu dan menenggelamkan hari bersamamu
sekiranya
dalam pekat malam aku dapat menyentuhmu
maka pastikan
aku tidak akan pernah terlelap dalam malamku
untuk dapat selalu dalam sentuhan mu
sekiranya
dalam doa aku menjadi lebih dekat dengan mu
maka pastikan akan selalu ada namamu dalam setiap doaku
sekiranya pun
dalam segalanya tetap tak ku temukan engkau,
maka pastikan aku selalu ada untukmu
octavia nasution
kota Kembang, 09Mei2011
BISU
mengapa terkadang lidah ini kelu?
hendak berkata namun bibir beku, membisu?
kata-kata tersangkut di ujung lidah,
tak kunjung keluar.
apa gerangan?
akankah selalu terhimpit diantara sesak suara yang saling meninggikan?
aku terkukung dalam bising kebisuan ini
hendak berlari, meneriakkan segalanya,
namun raga pun tak kuat untuk beranjak.
terseok-seok berjalan,
sepanjang jalan hanya mulut-mulut yang saling beradu,
seolah memasung langkahku.
D I A M
sejenak saja agar aku mampu
mengumpulkan frase yang kau butuhkan,
bukankah itu yang selalu kau nanti dari ku?
D I A M
sebentar saja,
aku ingin merasakan udara dingin ini,
seraya memilin kata yang akan ku sembahkan untuk mu.
aku m o h o n :-)
octa_nst, Kota Kembang 7 Mei 2011
[jikalau kata pun tak berarti lagi, maka sia-sialah keheningan ini]
hendak berkata namun bibir beku, membisu?
kata-kata tersangkut di ujung lidah,
tak kunjung keluar.
apa gerangan?
akankah selalu terhimpit diantara sesak suara yang saling meninggikan?
aku terkukung dalam bising kebisuan ini
hendak berlari, meneriakkan segalanya,
namun raga pun tak kuat untuk beranjak.
terseok-seok berjalan,
sepanjang jalan hanya mulut-mulut yang saling beradu,
seolah memasung langkahku.
D I A M
sejenak saja agar aku mampu
mengumpulkan frase yang kau butuhkan,
bukankah itu yang selalu kau nanti dari ku?
D I A M
sebentar saja,
aku ingin merasakan udara dingin ini,
seraya memilin kata yang akan ku sembahkan untuk mu.
aku m o h o n :-)
octa_nst, Kota Kembang 7 Mei 2011
[jikalau kata pun tak berarti lagi, maka sia-sialah keheningan ini]
Langganan:
Postingan (Atom)