Minggu, 13 November 2011

Seuntai Kata untuk Kata

SATU

tampak olehmu kah, setiap untaian larik2 yang ku gurat.
ada kekuatan di dalamnya.
semua menjadi satu, ku kumpul dalam berkas-berkas bernada merdu.

tampak olehmu kah, mereka hidup bukan?
menari dalam satu formasi indah.
lalu apalagi yang mampu menandinginya?

rasakan, mereka berbicara
dalam potongan-potongan kata menjadi satu alunan tanpa suara.



Kota Kembang, di bawah temaram remubulan 23:16
octa_nst

Selasa, 08 November 2011

SATU

lihat, setiap untaian larik2 yang ku gurat.
ada kekuatan di dalamnya.
semua menjadi satu, ku kumpul dalam berkas-berkas bernada merdu.

lihat, mereka hidup bukan?
menari dalam satu formasi indah.
lalu apalagi yang mampu menandinginya?

rasakan, mereka berbicara
dalam potongan-potongan kata menjadi satu alunan tanpa suara.


Lalu seperti ini yang kau sebut cinta. Lajang tak beradab. Serbuk2 kasih yang bertebaran di mukamu. Seperti itu yang kau sebut sayang? Kotoran-kotoran sampah tampak jelas di matamu. Peduli apa? Kau sangat menjijikkan. [Senjaku redam ditelan malam]
Haru biru. Membumbung tinggi di angkasa. Aurora yang indah. Menggetarkan nadi. Hamparan biru menjadi taburan mimpi. Doa ini sampailah ke Langit. [biru biru penuh haru]
Perjalanan ini ku lakoni sendirian. Di ranah ini aku meniti segalanya, jatuh bangkit menjadi cerita indah untuk satu lembar yang panjang. Selalu. Dari jauh meski samar, guratan senyum manis itu mampu menjadi teman yang paling setia. Aku merindumu.
Mam, terimakasih untuk sebesar-besar rasa khawatir yang kau tumpahkan padaku. Untuk cinta kasih yang tidak pernah kering, yang selalu mengalir padaku. Terimakasih untuk segala sesuatunya yang selalu berlimpah dalamku, yang tidak akan ku temukan dari tempat yang paling indah sekalipun. Karena di atas segalanya, engkaulah yang terindah. Terimakasih Mam. Tuhan memberkatimu. Love you. *your beloved daughter.
Aku mengenalmu lewat sepenggal larik yang kau tinggalkan di ranah ini. Berteman kata-kata itu aku menghabiskan hariku. Melewatkan setiap waktu, mendekapnya erat dalam selembar Maple yang mengusang.
Aku tidak tau sejak kapan ini bermula. Namun pesonamu terlanjur bersemi di antara kelopak-kelopak mekar yang menari bersisian di dalam ruangku. Perlahan dia masuk dan berakar diam di dalam sendu.
Maka izinkan aku mengumpulan semua kekuatan dari 4 elemen itu untuk membantumu
menghapus rasa sakit mu yang sangat mendalam itu? Mungkin air bisa
membawanya pergi bermuara ke samudera luas lalu tenggelam sampai
kedasarnya. Udara akan membawanya terbang menembus jagad dan hilang
ditelan senjata luar angkasa. Tanah akan menguburnya dalam-dalam dan kotoran2
tanah akan menguraikannya. Dan api membakarnya menjadi debu. Semuanya menjadi bagian yang tidak kau kenali dan perlahan mengahpus lukamu. Bolehka aku? ^_^
Hari semakin meredup. Malam membawanya ke dalam perduan terakhir. Masih seperti kemarin. Tidak ada yang istimewa, bahkan langit masih dibendung kelamnya abu. Namun kau menjadikannya indah. *merindu Senja. Gbu ^_^
Mendung, lalu hujan menguburnya dalam bersama genangan air di tepian danau itu. Merekat kuat bersama kenangan, semua lebur dalam rinainya yang merdu. Dan langit menyaksikan segalanya. Semua disimpan dalam birunya.
Benar. Dia masih utuh di dalam sini. Belum tersentuh dan tidak ada yang sesempurna, sungguh-sungguh memampukanku untuk menempatkannya dalam ruang yang tepat. Belajar dengan sekitar, belajar melihat segalanya dalam formasi yang sederhana.
 
kusembahkan untuk kamu sekalian :)

Fatamorgana

maka izinkan aku.
mencatat segalanya yang tertancap di alam pikirku.

dalam remang malam, perlahan ku lihat rautmu.
hampir tenggelam di bawah temaram rembulan.
sinar itu, menyilaukan retinaku.
sedang apa kau di sana?

malam, matangnya melenyapkan segala rasa.
peraduan yang ku tuju
menjatuhkan tapian asa.
rebah. ringkuh. segalanya kutumpahkan
dalam gubuk reok tak menentu.

di sudut mata,
ada cerminan pesonamu.
kembali asa menjulang.
membuncah di langit-langit kamar.

menerka. isyarat Semesta berhenti seperti inikah?
terpongah mata menatap.
pandangan yang memilukan. sakit. pilu.
hingga fajar membuyarkan lamunan.
ku dekap mimpimu, terbang bersama kunang-kunang malam.


dalam Lembayung yang tak kunjung tiba, 17:32
octa_nst

21 dalam 21. Selamat berulang tahun Gadis Senja

ku lisankan dalam satu larik

'"Senja, menghantarkan rembulan padaku. Ku tulis sesuatu untukmu. Dan malam mengangkatnya kembali. Adakah kau baca lukisan penuh kataku untukmu dalam bundarnya rembulan malam ini?"

"Sampailah dipenghujung waktuku. Rapat, ku tutup lembar kali ini. Lembar yang hampir usang, lembar yang bergulir indah di bawah tetes tinta dan kisah pilu. Terimakasih ku sampaikan padamu, "20" ku untuk lembar yang luar biasa ini. ^_^"

"Pergantian. 21 dlm 21. Kusebut 21 untuk angka sejauh ini ak merangkai kisahku yg ku beri judul HIDUP. Ku sebut 21 utk setiap air mata dan tawa yg mengisi kisah dlm HIDUP. Ku sebut 21 utk setiap kemenangan dan kegagalan yg menyempurnakan lembaran HIDUP. Ku sebut 21 utk seorang tokoh gadis yg menjelma menjadi wanita menanti sentuhan sempurna dari Sang Empunya Hidup. Terimakasih buat 21 kali ini BAPA. Indah dan sangat teristimewa. KAU sempurnakan segalanya. Selamat berulang Tahun Octavia Dwimayasari Nasution ^_^"

"Ku simpul dalam terik matari kali ini. Langit, boleh aku katakan hari ini SEMPURNA. Boleh aku bisikkan hari ini ak BAHAGIA, teramat bahagia. Sekali lagi boleh aku senandungkan hari ini SEGALANYA MENYATU DALAM pesonamu. Terimakasih untuk segala sesuatunya. *Langit tersenyum* ^_^"

"Hampir malam menyapu kasat bayangku. Ku buka yang baru, ku mulai dari garis ini. Berjalan beriringan. Saling menyatu, menguatkan, menopang bukankah itu yang terutama? Terimakasih menjadi bagian penting dalam buku HIDUPKU. Dan aku bersyukur untuk itu. Taukah, aku mengasihimu. *teruntuk kamu yang menyaksikan setiap titian perjalananku. Aku merindukanmu."

"Hari ini bisakah tidak berakhir? Tak kan ku jumpai embun, fajar, mentari, senja, dan rembulan seperti ini di hari esok. Terlalu sempurna untuk menutupnya. Langit terlalu indah untuk ditinggalkan. Hari ini bisakah tidak berakhir?"

"Lagi-lagi sempurna. Hampir ku kira tak akan ada kata terlontar. Makasih beb Dolly Voy Siregar ucapan penutup itu ada padamu. Tuhan memberkati :D"

terimakasih untuk segala sesuatunya. Engkau menjadikannya indah, sungguh teramat indah :)

Bandung, 21 Oktober 2011 ^_^