Memaknai makna.
Rembulan masih tegak di antar kita.
Ketika kita selesaikan ruang kecil ini.
Merangkum segala lembar yang ada.
Melengkapi kata-kata yang hampir rampuh tak bertemu ujung.
Sedang malam menatap kita heran.
Seperti tak jemu dengan kesepian.
Menyelimuti kelu yang beku di terpa angin malam.
Kita selesaikan cerita kecil tak berjudul ini.
Mencari akhir dalam bisu.
-Catatan terbaikku, ku rangkum dalam "Kita"
Octavia Nasution. Medan, 24 Juni 2013
Lelaki terkasih. Malam bermatakan rembulan masih menjadi titipan untukmu. Selalu. :)
sebuah proses perjalanan seorang wanita sederhana. bahwa hidup adalah "perjalanan tiada akhir"
Minggu, 07 Juli 2013
Minggu, 07 April 2013
Kasmaran
Merah-merah bermain api
Terbakar hati melihat polesan mata teduh
Kita pernah bersisian di simpang jalan
Ujung mata bergetar, hati berbicara
Asmarakah yang bergelora?
Kicauan unggas menyiratkan makna
Aaah indahnya lekuk jantung ang berdegup kencang
Sanggupkah lara menyapa?
Tali kasih kian menjerat
Pesona merah semakin membara
Dara, bolehkah diri menyapa?
Agar luruh segala rasa. Agar tumpah segala kata.
Kita bersisian di persimpangan
Adakah jalan mendekap cinta?
Bandung, Maret 2013
Terbakar hati melihat polesan mata teduh
Kita pernah bersisian di simpang jalan
Ujung mata bergetar, hati berbicara
Asmarakah yang bergelora?
Kicauan unggas menyiratkan makna
Aaah indahnya lekuk jantung ang berdegup kencang
Sanggupkah lara menyapa?
Tali kasih kian menjerat
Pesona merah semakin membara
Dara, bolehkah diri menyapa?
Agar luruh segala rasa. Agar tumpah segala kata.
Kita bersisian di persimpangan
Adakah jalan mendekap cinta?
Bandung, Maret 2013
Di sore hari.
Cukup. Sudah cukup.
Setelah kering air ditanak dalam tungku keruh.
Paksakan sampai habis semburan api,
tak jua mendidih.
Pun mata perih,
Tandas disiram abu yang mengambang ke udara.
Ke mana perginya serbuk serbuk api yang tersisa di kala petang menanak air?
Bandung, 07 April 2013
Setelah kering air ditanak dalam tungku keruh.
Paksakan sampai habis semburan api,
tak jua mendidih.
Pun mata perih,
Tandas disiram abu yang mengambang ke udara.
Ke mana perginya serbuk serbuk api yang tersisa di kala petang menanak air?
Bandung, 07 April 2013
Selasa, 26 Maret 2013
Roda
satu dua berputar.
tapi kaki kapan bergerak?
kaku membisu.
tanah menggeliat melihat tingkah bocah
kapan akan berlari?
sampai tanah berkubang kau tak akan maju.
lantas, mengapa diam saja menatap kering nya peluh?
Bandung, 26 Maret 2013
tapi kaki kapan bergerak?
kaku membisu.
tanah menggeliat melihat tingkah bocah
kapan akan berlari?
sampai tanah berkubang kau tak akan maju.
lantas, mengapa diam saja menatap kering nya peluh?
Bandung, 26 Maret 2013
Boleh aku?
boleh aku berdagang kata?
jualan ku tak ada lakunya.
barang jasa habis ku jajakan
entah kemana larinya.
kata tak ada habis.
boleh aku menjajakan kata?
suaraku mungkin parau.
tapi kata ku tidak akan mati.
Bandung, 26 Maret 2013.
jualan ku tak ada lakunya.
barang jasa habis ku jajakan
entah kemana larinya.
kata tak ada habis.
boleh aku menjajakan kata?
suaraku mungkin parau.
tapi kata ku tidak akan mati.
Bandung, 26 Maret 2013.
Tapal Batas
Tapal Senja
Sudah separuh usia tanah kita jalani
Berdua. Bersama.
Menginjak ilalang, bermain di padang rumput.
Sayang, sekali kita berlari.
Di tepian pematang sawah. Riak air bersenandung mesra.
Hamparan hijau memungut cinta, seperti aliran air derasnya. Seperti alunan kasih yang kita dendangkan.
Sekali waktu ak pernah bermimpi,
Mendayung perahu bersamamu, melewati tepian asa.
Biar biar arus membawa kita tenggelam,
Ke dalam luasnya cinta yang kita tanamkan.
Agar kau paham, sederhanakah kasih ini?
Ini segenggam waktu yg kita pegang. Erat.
Seperti senja matang bersama malam, kau bisikkan kata cinta. Ku
sampaikan pada angin membawa doa. Mendekap mu melekat dalam kasih. Di
tapal Senja, ku hembuskan rinduku.
Majalengka, Maret 2012.
Minggu, 03 Maret 2013
Jarak
Selamat malam kesayangan. Selamat bermimpi indah :)
Seharian kita habiskan berdua. Hehee. Bahagia kali ak. Bahagiakah kau? Semogaa saja yah. Banyak waktu yang kita habiskan bersama tapi tak sepenuhnya dinikmati. Kenapa? Jarak? Seharusnya kita sudah bisa berdamai honey. Sudah lama kan keadaan memaksa kita belajar? Jangan perkarakan jarak. Bukankah jarak yang menjadikan kita utuh bahkan mampu memecah-mecah segala rasa? Semoga kau pahamkan rasa. :) Semampu ku sekuat yang ku bisa untuk selalu ada disampingmu. Mengasihimu sayang.
Jarak dan waktu seolah tak habis2nya menekan kita. Pencobaan atau kelayakan ujikah yang sedang kita jalani? Atau ini seperti sebuah proses panjang yang harus kita ikuti sebelum akhirnya pertemuan terakhir mempersatukan kita dalam naungan yang lebih suci? Bagaimana cara pandang kita memaknainya sayang, kita sudah lebih dari dewasa menyikapi hal ini.
Aku rindu, kau juga. Rindu yang berjuta2 kali lipat kita timbun setiap waktu. Jenuhkah kau pada ketidak hadiran? Tolong bersabarlah dalam proses ini. Ak tau dan sangat paham. Kehadiran adalah titik puncak kerinduan. Dan lagi-lagi kita harus menekan-nekan rasa untuk sampai pada tahap itu. Sayang bukan perkara mudah. Anggap saja kita seperti terpisah dalam dua kapal di samudera yang luas, pastikan kita tetap bermuara pada satu dermaga yang abadi yang kita komitmenkan dalam hunbungan sederhana ini :)
Aku mengasihimu. Sederhana dan tidak butuh berjuta2 tulisan untuk menjelaskan nya. Kita sudah belajar bahasa nonverbal, bahasa tanpa kata. Seperti itulah pembelajaran dalam perjalanan kita ini. Jangan kalah dengan keadaan, jangan lemah ditikam jarak, jangat mati dihempas waktu. Sebab kita kuat dalam ikatan bermata tali kasih ini.
Aku mengasihimu.
Selamat malam.
Yours :)
Seharian kita habiskan berdua. Hehee. Bahagia kali ak. Bahagiakah kau? Semogaa saja yah. Banyak waktu yang kita habiskan bersama tapi tak sepenuhnya dinikmati. Kenapa? Jarak? Seharusnya kita sudah bisa berdamai honey. Sudah lama kan keadaan memaksa kita belajar? Jangan perkarakan jarak. Bukankah jarak yang menjadikan kita utuh bahkan mampu memecah-mecah segala rasa? Semoga kau pahamkan rasa. :) Semampu ku sekuat yang ku bisa untuk selalu ada disampingmu. Mengasihimu sayang.
Jarak dan waktu seolah tak habis2nya menekan kita. Pencobaan atau kelayakan ujikah yang sedang kita jalani? Atau ini seperti sebuah proses panjang yang harus kita ikuti sebelum akhirnya pertemuan terakhir mempersatukan kita dalam naungan yang lebih suci? Bagaimana cara pandang kita memaknainya sayang, kita sudah lebih dari dewasa menyikapi hal ini.
Aku rindu, kau juga. Rindu yang berjuta2 kali lipat kita timbun setiap waktu. Jenuhkah kau pada ketidak hadiran? Tolong bersabarlah dalam proses ini. Ak tau dan sangat paham. Kehadiran adalah titik puncak kerinduan. Dan lagi-lagi kita harus menekan-nekan rasa untuk sampai pada tahap itu. Sayang bukan perkara mudah. Anggap saja kita seperti terpisah dalam dua kapal di samudera yang luas, pastikan kita tetap bermuara pada satu dermaga yang abadi yang kita komitmenkan dalam hunbungan sederhana ini :)
Aku mengasihimu. Sederhana dan tidak butuh berjuta2 tulisan untuk menjelaskan nya. Kita sudah belajar bahasa nonverbal, bahasa tanpa kata. Seperti itulah pembelajaran dalam perjalanan kita ini. Jangan kalah dengan keadaan, jangan lemah ditikam jarak, jangat mati dihempas waktu. Sebab kita kuat dalam ikatan bermata tali kasih ini.
Aku mengasihimu.
Selamat malam.
Yours :)
Kamis, 21 Februari 2013
Rumah Kita
Satu dua anak berlari di pinggiran rumah.
Melagukan lagu kasih.
Sayang di sinilah.
Akan ada tawa, tangis yang kita habiskan. Berdua. Bertiga berempat bersama boach-bocah kebanggaan.
Sayang di sinilah.
Kita bangun kedamaian dalam gubuk kecil.
Ketika lelah mencambuk jiwa,
Ketika pupus menyerang segala asa.
Sayang, di sinilah. Di rumah ini akan kau temukan ketenangan jiwa. Bersamaku. :)
Di rumah inilah akan kita habiskan banyak sekali perjalanan hidup. -Lelaki Terkasih :)
Senin, 18 Februari 2013
Kabut
Kau tanya pada angin sekuat apa dia.
Seketika badai datang, dan kau tak sanggup berkata apa.
Itulah cara sederhana untuk mengenal Semesta.
Majalengka, 18 Februari 2013
Seketika badai datang, dan kau tak sanggup berkata apa.
Itulah cara sederhana untuk mengenal Semesta.
Majalengka, 18 Februari 2013
Lelaki Terkasih, 2
Untuk lelaki terkasihku. Lagi. Meski berjuta kata tak mampu menuliskan tentang engkau, tapi aku dalam segala kekuranganku akan selalu bercerita tentangmu. Sebab separuh perjalananku adalah engkau, Lelaki Terkasihku. :)
Aku sebutkan, aku hanya memiliki satu cara sederhana untuk tetap mampu menyandingmu. Di tengah gilanya tekanan dunia, berusaha tetap berdiri. Kokoh di sampingmu.
Sayang, Kau hebat. Dunia mengakui itu. Semesta juga bersabda bahwa kau seorang lelaki tangguh. Namun mengapa tekanan malah menghadangmu dari dalam dirimu sendiri? Ahh kau tak cukup jeli melihat berjuta cahaya kejayaan dalam dirimu. Sayang, aku tidak sedang menggombal dengan kata-kata ini. Karena kau paham, bagiku gombalan tak ubah seperti daging kotor di tepi jalan. Cepat saja habis rasanya ditelan anjing.
Aku sebutkan, aku hanya memiliki satu cara sederhana untuk tetap mampu menyandingmu. Di tengah gilanya tekanan dunia, berusaha tetap berdiri. Kokoh di sampingmu.
Sayang, Kau hebat. Dunia mengakui itu. Semesta juga bersabda bahwa kau seorang lelaki tangguh. Namun mengapa tekanan malah menghadangmu dari dalam dirimu sendiri? Ahh kau tak cukup jeli melihat berjuta cahaya kejayaan dalam dirimu. Sayang, aku tidak sedang menggombal dengan kata-kata ini. Karena kau paham, bagiku gombalan tak ubah seperti daging kotor di tepi jalan. Cepat saja habis rasanya ditelan anjing.
Kau memiliki aku. Keberadaanku di dalam kita itulah yang sedang kupertegas, agar kau paham bahwa dalam langkahmu kau tidak pernah sendirian. Aku. Dengan segala cara yang ku punya selalu bertahan disampingmu. Memberikan genggaman tererat yang bisa ku berikan agar kau lihat kau tidak sedang berjalan sendiri menghalau jalan ini. Kita bersama, sayang. Seperti
inilah aku. Ada bukan untuk memberikan tekanan kepadamu, namun
menyediakan hati sebesar kekuatan yang kau butuhkan untuk bertahan.
Boleh saja dunia menekanmu, tapi kau punya aku dengan segala dukungan
yang kusediakan untukmu agar kau paham sejatinya ada satu orang
setidaknya berdiri disampingmu merangkulmu, menemani setiap jalanmu.
Sesederhana apapun cara yang ku lakukan, ku nyatakan keberadaan ku di
dalam kita untukmu. Berlarilah kasih, jalan terlalu panjang jika kau
penuhi dengan kepedihanmu. Dunia tidak butuhkan itu, dunia rindukan
ketangguhan dan pikiranmu yang gila. :)
Lelaki Terkasih :)
Kamis, 14 Februari 2013
LELAKI TERKASIH
Selamat pagi lelaki terkasih. Kesayanganku. Entah ini kali berapa pagi yang aku habiskan bersamamu. :) Aku rindu. Merindukanmu selalu istimewa. Tak akan pernah habis sebab kehadiranmu tak lebih seperti nafas yang aku hembuskan. :)
Selamat pagi sayang. Semoga selalu dalam keadaan utuh. Utuh dalam jalinan kasih yang kuat di antara kita. Dengan wanita yang sedang berbenah inilah kau habiskan waktu, berproses sampai kematangan jiwa kita miliki. Terus berbenah tidak aku, tidak kau tetapi KITA. Menjadi satu :D
Aku ingat malam kemarin. Aku belajar banyak. Banyak sekali. Semoga kau pahamkan keputusanku. Bukan perkara mudah memberikan keputusan yang benar-benar aku berpikir berjuta kali untuk mengucapkannya, tapi aku percaya kasih. Hanya memberikan ruang bebas untukmu di antara ruang yang sedang kita bangun. Agar kau tidak kesesakan. Untuk itulah aku ada, memberi hati sebesar hati yang kau butuhkan untuk menanggung beban. :)
Kita juga bercerita tentang hari esok. Betapa banyak mimpi dan rencana-rencana besar yang kita rancangkan. Sebelumnya aku tidak ada teman melakukan ini. Tidak sekedar kata-kata yang kita tebar pada langit, namun lebih dari sekedar harapan. Pasti Semesta sudah mencatat semuanya itu sayang dan kelak menghadiahkannya untuk kita. Percayakan? :D Cukup kan Semesta mencatat, jangan sampai orang-orang merusak konsep yang kita rancang. Seperti itu kan katamu? :D
Membangun dari dasar, memasang pondasi yang kuat agar tidak rapuh, memberikan penyangga yang kokoh agar tidak jatuh, menyediakan taman berbalut bunga melengkapi kesempurnaan indahnya kisah ini. Tak lupakan doa menjadi kekuatan paling besar di dalamnya. :)
Seperti doa yang kita naikkan bersama "Terimakasih Tuhan kau ciptakan dia untukku." Seperti itulah, aku senantiasa mengucap syukur pada Allahku karenamu.
Semoga kita tidak pernah letih untuk berlari bersama sayang, sebab genggaman tangan kita sanggup membawa kita lari bersama. Jauh. Sejauh mimpi kita. :)
-Wanitamu yang sedang belajar dan berbenah diri untukmu. :)
Aku mengasihimu, 2007 :)
Majalengka, 15 Februari 2013. :)
Selamat pagi sayang. Semoga selalu dalam keadaan utuh. Utuh dalam jalinan kasih yang kuat di antara kita. Dengan wanita yang sedang berbenah inilah kau habiskan waktu, berproses sampai kematangan jiwa kita miliki. Terus berbenah tidak aku, tidak kau tetapi KITA. Menjadi satu :D
Aku ingat malam kemarin. Aku belajar banyak. Banyak sekali. Semoga kau pahamkan keputusanku. Bukan perkara mudah memberikan keputusan yang benar-benar aku berpikir berjuta kali untuk mengucapkannya, tapi aku percaya kasih. Hanya memberikan ruang bebas untukmu di antara ruang yang sedang kita bangun. Agar kau tidak kesesakan. Untuk itulah aku ada, memberi hati sebesar hati yang kau butuhkan untuk menanggung beban. :)
Kita juga bercerita tentang hari esok. Betapa banyak mimpi dan rencana-rencana besar yang kita rancangkan. Sebelumnya aku tidak ada teman melakukan ini. Tidak sekedar kata-kata yang kita tebar pada langit, namun lebih dari sekedar harapan. Pasti Semesta sudah mencatat semuanya itu sayang dan kelak menghadiahkannya untuk kita. Percayakan? :D Cukup kan Semesta mencatat, jangan sampai orang-orang merusak konsep yang kita rancang. Seperti itu kan katamu? :D
Membangun dari dasar, memasang pondasi yang kuat agar tidak rapuh, memberikan penyangga yang kokoh agar tidak jatuh, menyediakan taman berbalut bunga melengkapi kesempurnaan indahnya kisah ini. Tak lupakan doa menjadi kekuatan paling besar di dalamnya. :)
Seperti doa yang kita naikkan bersama "Terimakasih Tuhan kau ciptakan dia untukku." Seperti itulah, aku senantiasa mengucap syukur pada Allahku karenamu.
Semoga kita tidak pernah letih untuk berlari bersama sayang, sebab genggaman tangan kita sanggup membawa kita lari bersama. Jauh. Sejauh mimpi kita. :)
-Wanitamu yang sedang belajar dan berbenah diri untukmu. :)
Aku mengasihimu, 2007 :)
Majalengka, 15 Februari 2013. :)
Kamis, 10 Januari 2013
Lembaran 2012
JANUARI
1. Adakah yang lebih indah dibanding satu masa yang dengan sempurna ku lewati bersama-Mu? Di tempat dalam waktu yang berbeda. Semuanya seperti terulang kembali. Sekejap mata. Aku sudah sampai diwaktu yang baru ini. Gemintang dalam hamparan kelam menjadi kunci membuka masa baru yang telah terbentang di hadapanku. Sampai sejauh ini, aku terdampar dalam ruang yang bahkan aku sendiri tidak tau akan seperti apa serangkaian kisah yang terjadi nantinya. Akan seperti apa cerita-cerita yang kita tulis di depan sana. Satu hal yang aku genggam, keyakinan dan kepercayaan ini menenggelamkan segala khawatir yang terlanjur merongrong jiwa. Tidak akan ada yang salah sebab segalanya sempurna di dalam Dia. Aku membuka masa yang baru, pertanda bahwa aku SIAP untuk sesuatu yang sudah dipersiapkan untukku. Apapun itu. Bukankah semua proses menuntut kesediaan kita untuk menjalaninya? Selamat datang 2012. Bersahabatlah dengan gadis setengah matang ini. Bersama kita melaju seperti tahun2 sebelumnya. Aku SIAP. Tuhan memberkati. [satu pembukaan yang indah, Bandung, 1st January 2012]
2. Ini seharusnya menjadi pembuka yang manis. Tapi tidak untuk awal ini. Air mata menjadi kado indah yang diselipkan di tengah tawa yang riuh. Waktu berlalu namun tidak untuk perkara yang memang masih bertahan. Masa ini masih membawa luka-luka lama dari masa yang lalu. Seharusnya semua sudah jauh tertinggal di ujung sana. Seharusnya dia diam dan tidak berakar sampai ke masa ini. Seharusnya semua tidak seperti ini. [Bandung, the saddest opening year 2012]
3. Malam ini. Kembali pekat menghentakkan semua lamunan yang menggantung dalam angan-angan. Suara yang tegas pun pasti yang terdengar lembut menyimpan sejuta harapan yang dinanti-nanti mula pertama menjejakkan kaki di ranah ini. Banyak harga yang harus dibayar, banyak janji yang harus dipenuhi. Tak hanya dalam lingkar mimpi, secepatnya semua akan digenggam bersama asa yang telah disediakan waktu. -5 Januari 2012
4. Saling memberi. Saling menerima. Saling melengkapi. Indah bukan? Kokoh dalam satu jalinan, kuat dalam satu ikatan. Semakin sempurna. Begitulah seharusnya. Tidak ada yang terlewatkan dalam dekapan, semua tetap dalam satu rantai yang tak terpisahkan. Bersama itu indah bukan? Begitulah seharusnya.-6 Januari 2012
5."Sudahlah lama aku tidak menyuratkan ini. Pagi-pagi tadi Langit bersusun batu-batu awan dalam komposisi puzzle yang indah. Langit selalu dalam balutan biru nya memesonakan wanita setengah matang ini. Selalu memberi ruang untuk setiap lepasan nafas, meyakinkan langkah untuk terus melaju. Tidak pernah salah. Kejeliaannya melihat segala sesuatunya memukau. Tidak pernah salah. Ketelitian untuk tetap menganalisa segala yang terjadi selalu akurat. Sempurna ketika malam menutup nya perlahan, dan hujan menjadikannya bening. Langit, sudah lama aku tidak bersenandung. Waktu-waktu menjepit, hari-hari mengejar. Adakah kau selalu di sana untukku bukan?" -16 Januari 2012
6. "Lebih tenang menyikapinya, harap seperti itu. 5 tahun dalam liku yang sama, seharusnya kita sudah kebal, lebih kuat, lebih tangguh. Tidak seperti ini. Namun memang, kekuatan manusia ada batasannya. Ini hanya sebuah proses, katakanlah proses yang sangat panjang maka dibutuhkan waktu yang panjang dan berlipat2 kesiapan diri untuk mampu melewatinya. Begitu bukan? Air mata hanya segelintir hal kecil untuk membuang sesak, mengalirkan segala yang tertahan. Jika hal-hal itu semua masih berada dalam lingkar kemampuan, maka itu semua tak lebih besar dari dirimu sendiri."-18 Januari 2012
7.Bertemu pagi -lagi-. Pertanda satu hari luar biasa telah ditutup berganti dengan pembuka hari yang baru. Pagi, selalu menjadi terabaikan, terjepit di antara kesibukan yang mampu meniadakaannya. Bertemu pagi -lagi- sama halnya dengan membuka langit biru, memisahkan gelap dengan terang, berkicau bersama teriknya. Bertemu pagi, bersiap untuk kejutan2 di hari ini.-23 Januari 2012
8. Januari di atas Senja. Dalam waktu-waktu yang menekan. Menindas. Januari masih tetap di atas Senja.-24 Januari 2012
9. Menikmati sendiri. Semangkuk suguhan yang aku tanam dalam benih-benih kosong. Cicip segala rasa, aku telan sendirian. Tidak perlu kau dalam cerita ini.-25 Januari 2012
10. Kali ini, tak ada Jingga. Angin dan mendung berkelakar menggantikannya. Tak kalah memesona. Selalu, Langit dengan sejuta cerita mampu membuat penghujung hari indah, mejadikannya berbeda disetiap waktu. :)-25 Januari 2012
11. Pagi menjadi sempurna ketika fajar dan embun menyapa. Lembut dalam balutan semilir angin pagi. Membekukan. Namun pagi tetap pagi dengan sejuta semangat yang disiapkan untuk jiwa-jiwa kuat.-26 Januari 2012
12. Modal kehidupan. Berbagai kisah dan rasa yang ditimbulkan oleh waktu. Menjadikan diri peka dan mengenal hidup. Pengalaman menjadi guru dan orang-orang sekitar menjadi pucuk pelajaran. Banyak melihat, banyak merasa, banyak belajar. Hidup ini indah ternyata. Seindah2 orang yang menghargai hidupnya.-26 Januari 2012
13. Bukan masalah melupakan, namun bagaimana kau mampu berdamai dengan hatimu, bergelut dengan sesak nafas yang merongrong dadamu. Sedikit saja melihat bahwa semua sudah jauh tertinggal. Tidak ada yang harus dilupakan atau dilewatkan atau bahkan dihapus, karena satu hal sudah ada dalam satu kenangan, terbungkus rapat. Lalu tak ada hak lagi untuk mencabut satu peran dalam cerita ini bukan? Bagaimana pun ada cerita yang pernah dirangkai bersama. Meski sudah usang bukan berarti harus lenyap kan? Hanya saja, menerima satu hal bahwa tak ada lagi cerita yang harus diukir bersama.-27 Januari 2012
14. Mari bermain. Di antara pasir-pasir putih. Dan gelombang panjang menggantung di udara. Menggurat cerita di antara riak-riak bening riuh air.-30 Januari 2012
15. Satu hal. Ternyata untuk menjadikannya indah, wajibkan ada ketegangan sengit diantaranya. Menbuat dada semakin gencar, membuat arena ini tidak biasa-biasa saja. Ada harga mahal yang harus dibayar.-30 Januari 2012
16. Tidak mendominasi namun lihai bermain dalam arena. Mencari jejak, menangkap peluang, memenangkan kesempatan. Walau bukan yang terutama, tidak diam, gesit menjadi kuncinya. Terpukau. :-)-30 Januari 2012
17. Bernafas satu-satu. Taukah bagaimana sesak yang ditimbulkannya? Ketika bangun dan mendapati embun tak lagi basah. Mengering. Tersesat di dalam riuh kicauan empunya pagi. Mohonkan pada fajar untuk mendekap. Mengaliri hangatnya di tengah kebekuan pagi. Aah, hari-hari ini mohonkan berlalu walau desir angin membanting jiwa.-31 Januari 2012
18. Malam yang indah. Sempurna. Sedikit lebih dekat dengan Semesta. Duduk bersimpuh beralas desahan tanah. Baunya menusuk, merasuki paru-paru. Ke atas. Menatap langit, bertaburan bintang sekeliling Empunya malam. Sungguh ingin berbaring lebih lama. Beralas tanah beratap langit dalam dekapan angin malam. Dingin tidak terhinggaaa. Akan kah ada malam seperti malam-malam ini?-31 Januari 2012
Februari
1. Aku berlari. Kali ini ilalang menahan langkahku, menangkap tiap tapak yang hendak dilalui. Tak ada ruang untuk berlalu. Bernafas setengah2 sampai hilang dalam pekat malam.-2 Februari 2012
2. Tenggelam bersama malam. Larut dalam riuh ruah cuap-cuap tak bermakna. Malam ini, sungguh tak akan terlupakan. Hilang dalam letih, lenyap dalam pekat malam. Perlahan hitam meninggi dan semilir angin memudar.-2 Februari 2012
3. "Ayo kita berlari di pinggiran Senja. Sebelum hari meredup dan malam datang. Menikmati 49 detik, sebelum benar-benar layu. Berteriak pada pohon-pohon di sekitar, menghempaskan segala tekanan sampai habis. Sehingga tidak ada sesak lagi di dalamnya. Ayo kita berlari kepelukan Senja, mungkin saja esok hari dia tidak datang dan tak ada jingga untuk di dekat."-4 Februari
4. Karya-karya lama yang hampir punah. Cerita yang sarat akan kebenaran-kebenaran yang juga akan lenyap jika tidak dipertahankan. Kebenaran yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang kelam. Kebenaran yang membawa dampak besar pada kehidupan masa kini. Banyak lakon yang terabaikan. Bagaimana tidak punah? Seperti dijejal di pinggiran tanah, sampai bau tanah pun dia tak pernah tersentuh.-6 Februari 2012
5. Suara pertama pagi ini. Mama. Yang selalu setia dengan sapaan khas di pagi2 buta. Dengan semangat yang selalu membara dalam dada, yang selalu dengan segala caranya yang manis dialirkan padaku. Naluri kuat yang pernah dimiliki menjembatani jarak yang terbentang luas. Khawatir menjadi ciri bahwa aku tak pernah luput dari perhatian. Mama sayang, aku rindu. Di waktu-waktu seperti ini ketika semua menuntut keakuan ku untuk bertindak, untuk melangkah. Aku tau sepersen pun dukunganmu tak pernah lenyaaaap. Tak pernah pupus. Aaah Mama, aku rindu serindu-rindunya dirimu padaku.-11 Januari 2012
6. Tetes pertama dihari ini. Basah. Menggenang pada sepetak tanah berpayung ilalang. Anak-anak bermain dalam rinai hujan. Menanggalkan baju. Meninggalkan kediriannya. Kepolosannya menjadi bulan-bulanan air hujan yang tumpah riuh menutupi aurat-aurat jiwa. Hujan pertama disiang ini. Guruh gemuru serupa langit tersedu. Sedu sedan menyatu dalam kilatan siluet merah, sedang awan bertahan dalam kepulan kelamnya. Hujan pertama di minggu ini, dan aku menangis.-12 Februari 2012.
Minggu, 06 Januari 2013
Gila
Gila menjelma bersama mimpi yang terurai
Berlari-lari menanggalkan keluh
Meyambar asa di tepian jalan
Umpama doa yang terseru ke Angkasa
Biar Arwana merajut dalam Nirwana
Serukan pada Langit
Tak akan gentar menggilai mimpi
Serupa sorakan bergetar
Menggema hingga pecah tanah kering. Retak.
Luruhkan risau, genggam hati
Lekatkan erat pada doa tertinggi
Bungkus kegilaan seperti balutan pekat malam
Tak akan hilang
Sampai tua menjemput ajal.
Bandung, 6 Januari 2013
Berlari-lari menanggalkan keluh
Meyambar asa di tepian jalan
Umpama doa yang terseru ke Angkasa
Biar Arwana merajut dalam Nirwana
Serukan pada Langit
Tak akan gentar menggilai mimpi
Serupa sorakan bergetar
Menggema hingga pecah tanah kering. Retak.
Luruhkan risau, genggam hati
Lekatkan erat pada doa tertinggi
Bungkus kegilaan seperti balutan pekat malam
Tak akan hilang
Sampai tua menjemput ajal.
Bandung, 6 Januari 2013
Jumat, 04 Januari 2013
My First Captured
Karena "gambar" mampu berbahasa lebih dalam makna dibandingkan "kata",
dan mampu menuliskan apa yang tidak tertuang oleh kata. :-)
dan mampu menuliskan apa yang tidak tertuang oleh kata. :-)
Ini adalah beberapa captured hasil jepretan saya. Dengan menggunakan kamera Nixon DSLR milik salah seorang teman saya mulai mencari benda-benda yang "mau" menjadi objek poto saya. Berguru sebentar dengan beliau dan saya pun memoto beberapa benda secara sembarangan namun dengan titik fokus objek yang telah ditentukan. Nah ini dia beberapa hasil poto karya saya yang masih jauh dari sempurna :
Merupakan beberapa potongan objek yang memang sengaja diambil dalam kemasan yang sudah diatur. Entah kenapa ada kepuasan tersendiri setelah saya berulang-ulang melihat gambar-gambar kecil ini. Baru beberapa kali jepret dan alhasil, kegiataan ini membuat saya gila pada kamera, objek dan poto. Bukan hanya sekedar menangkap sesuatu yang kemudian dibingkai dalam poto, namun ada sesuatu yang berbeda rasanya. Perlahan saya bisa menyimpulkan dan menangkap alasan-alasan kecil mengapa ada beberapa orang yang tergabung dalam komunitas karena kecintaan dan kegilaannya pada potret dan sejenisnya. Kepuasaan akan hasil yang dicapai dan kesenangan batin seperti tergambarkan dalam hasilnya.
Waktu
"Hakikat
waktu adalah "Pasti Berlalu". Semua yang boleh terjadi dalam satu waktu
hanya tinggal dalam paket kenangan yang dikemas indah agar tidak usang.
Waktu selalu berlari. Tidak peduli kau mampu mengejar atau kau
ketinggalan, waktu pasti berlalu."
"Dan waktu berteman erat dengan proses. Kita
mencintai proses untuk itulah ketergesaan harus disingkirkan
perlahan-lahan. Sebab apapun yang dilakukan dengan tergesa-gesa hanya
memberikan hasil yang renyah, tidak kuat dan matang."
[Bandung, Januari 2013]
Selasa, 01 Januari 2013
Langit
Menjadi lebih dekat dengan biru yang agung.
Keteduhan menjadi kunci kekuatan untuk tetap bertahan.
Itulah mengapa aku mencintai biru yang agung.
Langit...
Keteduhan menjadi kunci kekuatan untuk tetap bertahan.
Itulah mengapa aku mencintai biru yang agung.
Langit...
Langganan:
Postingan (Atom)

