Senin, 23 Januari 2012

Desember 25

Desember 25, 19:00.
malam ini aku sendiri
di atas tangga beranak
di bawah Langit hitam
aku sendiri menunggu denting Lonceng Gereja.

Desember 25, 20:00.
kota ini terasa menjadi sangat dingin
tebaran salju memaku beku titik2 tubuhku.
Diam, bungkam.
Lonceng Gereja mulai terayun. Pelan. Syahdu.

Desember 25, 21:00
aku masih belum beranjak
dinginnya butiran putih ini membuat ku betah.
ini malam terpanjang.
Aku menunggumu.

Desember 25, 22:00
malam semakin beranjak matang.
Lonceng Gereja perlahan terdiam.
Ini Natal paling mencekam.
Tak ada tanda2 kedatanganmu.

Desember 25, 23:00.
Dingin semakin menjadi-jadi.
Lonceng Gereja sempurna diam.
Satu jam terakhir sebelum Natal berakhir.
Aku mulai putus asa.
Sejak awal harusnya aku tau seperti ini.

Desember 25, 23:59.
Bernafas satu-satu.
Tidak akan ada bayang dari tepi jalan.
Baiknya aku masuk, mengunci pintu ini rapat2.
Perapian hangat mungkin lebih baik.

Desember 26, 00:01
Tak menunggu lama.
Sedari tadi aku sudah di sini.
Jika kau datang, mungkin pun kita tak bertemu.
Ada sebuah kado Natal yang beku di telan malam ku letakkan di bawah tangga panggung di depan rumahku.
Bawalah pulang.

Bandung, Desember 2011.

Pasir Putih sepanjang Januari

Semua masih terekam indah. Sungguh indah.
Ketika rasa datang, dan bertumbuh. :)
-------------------------------------------------------------
tak ada kata. Selain gelombang berbicara.
Mewakili seluruh rasa.
Diam, mendengar alunan deru ombak.
Kala itu, segalanya milik kita.
Kita berlari. Bersisian.
Di antara butir-butir pasir putih. Tertawa. Melepas segala ikatan.
Dekat. Bahkan tak ada ruang tersisa untuk memberi jarak.
Dua tetap dua, bayang bayang menyatu, lebur dalam biru laut.
Pasir putih sepanjang Januari.
Kala itu indah, cinta berpadu di dalam hati.
Pasir Putih kini tak lagi putih. Memudar. Sedang cinta meretak.




Januari 2009.
Pasir Putih sepanjang Januari.