Kamis, 01 November 2012

KALA

Kepada lelaki yang ku cinta. Kelak, suatu kala ku hadiahkan malam berselaput gelap bermata bulan ke padamu.

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Kala itu,

Mungkin saja kau lupa. Kala itu sebelum tanah mengambil peran. Berpisah. Kau titipkan sebaris puisi tak usai kepadaku. Sebagai ikatan pengganti hati yang tak bisa dibawa. Katamu "Kelak, sejauh apa pun tanah memisahkan kita, tak usah risau. Ada yang bisa kau dekap bersamamu. Meski hati tetap tak bisa terbang. Tapi ini, ikatan ini tak akan pernah lepas." Aku ikat ucapan bersatu dalam sebaris puisi yang mungkin tak pernah usai.

Kini,

Selalu, ku temukan kau dalam sebaris puisi yang mengusang. Hampir menua dalam deretan kata-kata klasik kesukaanmu. Boleh saja waktu memakan habis sampi busuk, namun kenangan tak akan pernah mati.

-Bandung, November 2012. KALA. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar