Minggu, 30 Desember 2012

Suatu pagi... [3 November 2012]

Ini di suatu pagi. Dan aku mengingatmu. Bukan karena pagi ini istimewa, namun karena kau mengistimewakan setiap waktu yang ada.

Lelaki yang ku kasihi.

Pukul 01.00
Aku terbangun dan mulai menyuratkan kata perkata ini dalam catatan harian yang selalu ku dekap. Tentangmu.

Sayang, pastikan kau sedang lelap bersamamu malammu.
Sadarkah dari sini aku sedang "menggambarkanmu"?
Aku kah yang sedang ada bersama mimpimu?
Aku kah yang ada dalam nafas yang kau tarik malam ini?
Sayang, sedang aku mata pun tak jua lelah.
Menatap mu dari kejauhan sini.
Berteman dentang jam dinding si atas kepalaku.
Aku masih melukismu dalam selembar kertas ini.

Sayang, lelaki yang kubanggakan.
Yang selalu menjadi tujuan tergilaku diakhir nanti.
[aku yakin kau pasti marah bila kau tau ini]
Bersamamu ku pastikan aku bahagia.
Bagai sepasang mempelai di atas pelaminan.
Kau tau sayang? Bahagia ku melebihi itu.
Tapi tak akan ada seorang pun yang tahu.
Karena bahagiaku hanya milikku saja.

Sayangku yang ku kasihi.
Kali berapa dengkur yang sudah kau hembuskan malam ini?
Pertanda lelahkan menhadang hari?
Atau seumpama melodi yang menemanimu mengusik malam?
Hehe kau tau? Bagiku dengkurmu lagu pengiring tidur sepanjang malam.
Dan aku suka membiarkan malam ku habis menatapmu sampai larut,
Lelap dalam dekapan tidurmu.

Sayang, terlalu dini.
Dan aku paling suka menemanimu tidur.
Menghabiskan malam berdua.
Bercerita tentang waktu-waktu terpisah yang kita genggam di hari kemarin.
Mengemasnya dalam perjalanan yang hendak kita satukan.
Membawa masing-masing potongan kisah yang hilang.
Menjadikannya satu. Utuh, bersamamu.
Pahamkan sayang? Kau tau aku gila sendirian tanpamu.

Sayangku, tak tau sudah berapa menit yang kuhabiskan untuk melukiskanmu.
Kau masih lelap saja ternyata.
Tidak terusik dalam goresan tintaku.
Kau memang raja tidur yang pernah ku kenal.

Sayang, semua yang terbaik selalu kuberikan.
Menjadi wanitamu yang luar biasa itu yang selalu ku lakukan.
Kau tau? Hampir aku lupa berbuat untuk diriku sendiri.
Hampir aku lupa, aku sedang berbenah diri.
Karena semua yang kulakukan untuk menjadi yang terbaik untukmu.
Berbenah diri. Berlari meski aku tau kau selalu menggandeng ku.
Menggenggam tanganku, erat. Berjalan bersama.
Menyetarakan langkah.
Agar aku mampu bersanding seimbang denganmu.

Sayang, masih lelapkah?
Masih aku kah yang ada bersamamu dalam malammu?
Agar aku bisa menyusulmu.
Dan kita bermimpi tentang hari.
Tentang esok.
Tentang kita.



Bandung, 3 November 2012.
Yang terkasih.

2012

30 Desember 2012. Sehari sebelum aku betul-betul menutup tahun dengan sejuta keluar biasaan ini. Semua berawal dari malam yang dibuka di awal tahun kemarin, hingga dihantarkan pada penghujung ini. Ya, penghujung lagi. Bersama 1 tahun, 364 hari telah berlalu. Bersama cerita yang selalu berganti mengisi lembar perjalanan ini. Tibalah pada akhir yang tidak akan pernah sama dengan waktu-waktu yang telah berlalu.

27 jam sebelum semuanya berakhir, dan aku terpaku di depan layar kacaku. Mencoba membawa pikiran terbang pada masa-masa silam yang telah berjalan. Langkah mengesankan yang selalu menghiasi hari. Ini sungguh luar biasa. Perjalanan "terpanjang" yang pernah ada dalam hidupku. Pelajaran dan pengalaman tetap menjadi guru dan pemateri yang paling abadi sepanjang masa. Semua masih mampu direkam ulang oleh memori.

Ini akan menjadi sebuah kisah yang tidak akan pernah mati. Dalam 12 yang berbeda, 52 yang tidak pernah terulang kisah, dan 365 yang selalu berkesan. Pertanda bahwa, kekuatan diri mampu membawa perjalanan ini semakin jauh melaju.

Januari yang tangguh,
Februari yang romantis,
Maret yang tekun,
April yang hampir jenuh,
Mei yang tak kenal lelah,
Juni yang terus bangkit,
Juli yang memporakporandakan semangat,
Agustus yang basah oleh curahan keringat yang selalu ingin berlari,
September yang tak akan terlupakan,
Oktober dalam balutan paket kado yang indah,
November yang selalu berkutat,
dan Desember yang indah.

12 yang tidak pernah sama, tidak ada yang terlewatkan. Menjadi paket yang selalu mengejutkan, selalu memberi isyarat bahwa perjalanan ini tidak pernah biasa-biasa saja untuk pribadi yang haus dalam pembenahan dirinya.

Merenung lagi. 12 telah menyelesaikan tugas terbaik yang pernah ada dalam 2012.
Lalu apa yang bertumbuh dalam tahun ini?

Kedewasaan?
Pembenahan diri?
Kematangan berpikir?
Kematangan sikap?

Adakah semua telah mencapai garis batas yang telah ditetapkan?
Hanya aku yang paling mengerti diri, dan mampu menjawab pertanyaan sederhana ini.


Selalu menjadi kunci untuk tidak pernah diam berbenah diri. Aku tau, tahun sudah memberi pelajaran banyak, dan selayaknya selalu bertumbuh bersama hari-hari yang semakin memekar.

2012 telah selesai, lalu apakah akan sama dengan 2013?

Minggu, 16 Desember 2012

Darahku, Darah Pertiwi...


Biar dikata aku orang ranah seberang.
Darah pertiwi mengalir bersama darahku.
Bergandengan sejuta darah yang dilahirkan dalam Pertiwi.
Menyatukan ragam tak terbendung megahnya.
            Biar dikata Pertiwi gundah.            
            Eka dalam Khatulistiwa agung berkumandang.
            Tanah air menjadi elok dalam balutan biru.
            Jagad menyatu dalam goresan pena tak tergantikan.
Di luar kita dikenal.
Dengan hijau sawah yang berserakan.
Kolam susu yang tak pernah mengering.
Berselaput zamrud abadi, melintang dalam bujur yang luas.
            Darahku, darah pertiwi.
            Turunan nenek moyang yang hidup dalam laut bebas.
            Dengan sekoci kecil berlayar menjelajah ranah.
            Tumbuh bersama jutaan darah lainnya.
Darahku, darah pertiwi.
Merah dan putih menjadi satu dalam keberagaman.
Bhinneka menjadi Tunggal dalam perbedaan.
Garuda ganas mencengkeram kekayaan.
Darahku, darah pertiwi.
Tak jua sirna dalam pandangan mata.
Walau Pertiwi bercumbu dalam kemelut.
Darah merah deras menyatu dalam tumpukan ego terbinasakan.
            Darahku, darah Pertiwi.
            Menempah permata dalam kilauan emas yang subur.
            Bertahta dalam tanah surga, hidup meski dengan cangkul dan jala.
Darahku, Darah Pertiwi.
Darah merah dilapisi putih yang kokoh.
Dipeluk Pertiwi dalam keagungan.
Abadi dalam keberadaan.
Darahku, Darah Pertiwi…

Bandung, Desember 2012
Octavia Nasution

Senin, 10 Desember 2012

Karena Kita Bebas!


Kita bebas!
Serukan erat dalam nadimu.
Bukan dengan ikatan bazoka yang mengarat.
Bukan dengan dentuman senapan yang memburu.
Kita bebas!
Suarakan sampai bergema.
Biar luruh segala gentar.
Ini era berbeda.
Bambu sudah usang, mungkin saja sudah diabadikan.
Kita tak butuh perang untuk menang.
Kita tak perlu darah untuk bertahan.
Kita perlukan kekuatan untuk bangkit.
Berguru pada sejarah yang menghitam.
Meninggalkan nafas. Pun berlari mengejar.
Kita masih punya pena dan carikan kertas.
Walau hampir mengusang.
Pengganti bambu runcing untuk hidup.
Percuma merah mengalir bersama darah.
Putih menancap lekat pada daging.
Jika jiwa tak ada ubah dengan bangsa tindasan.

Kita bebas!
Menyuarakan suara. Mengumandangkan diri kita.
Jangan mau ditindas dalam kekalahan.
Kita bebas!
Bebas bercerita. Mengangkat muka. Berderajat dalam barisan.
Memandang dunia. Menjadi besar di dalamnya.
Jangan lengah dalam abad yang semakin mendera.
Di manja zaman yang tak menentu kalang.
Pun terlupakan segala sirna menyembunyikan lara.
Kita masih punya utang yang tak terlunaskan.
Membuka tanah, menanam benih untuk dituai.
Jangan kalah dengan era ini.
Sisihkan ruang menderu dalam udara.
Bukakan rongga untuk menghembuskan kebebasan.
Sura-sura asing bisa mencekik.
Mematikan langkah.
Lepaskan saja peluru ke angkasa.
Biar asa ditebar dalam haru biru yang menganga.
Biar gemuruh menandai kegilaan.
Biar tanah bergetar oleh derap langkah serdadu masa kini.
Karena kita bebas!
Kita bebas dalam dunia.


Bandung, 2012
Octavia Nasution.

Kamis, 06 Desember 2012

Aku mencintaimu. Sungguh...

Aku mencintaimu. Sungguh.
Meski kasta menjulang tinggi.
Dan tembok membatasi kokoh.

Ak mencintaimu. Sungguh.
Lebih mencintaimu.
Meski dengan tasbih yang selalu kau bawa mati.
Berbeda dengan liontin bermata Salib yang ku kenakan sepanjang hidupku.
Aku mencintaimu. Lebih.

Aku mencintaimu.
Tak peduli kita selalu berpisah dalam perjalanan.
Kau masuk ke dalam Kubah
dalam kesucian Wudhu yang kau mandikan.
Sedang aku berdiam di depan Alatar yang agung.
Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu. Sungguh.
Serupa ayat-ayat yang kau kumandangkan dalam Sholatmu.
Tak jua berbeda layaknya Kitab yang selalu ku genggam dalam dadaku.
Sungguh aku mencintamu.

Aku mencintaimu.
Di dalam Tuhanku, ku titipkan namamu.
Adakah aku kau titipkan pada Tuhanmu?



Bandung, 7 Desember 2012.



Dari sebuah ruang bernama Hati

Ini malam seribu bintang.
Entah malam ke berapa yang ku habiskan
Setelah memekarkan sebuah ruang
Beratap kasih yang terukir
Dan kisah singkat yang teralaskan di dalamnya.

Menatap elok kepada pemilik mata elang.
Pun tak tau akan berujung seperti apa kelak.
Ku titipkan bingkaian taman kasih
Berbalut dongeng-dongeng penyempurna kata.

Tak terusik. Dari seberang yang menenggelamkan suara.
Tetap rintih menanti datangnya semburat merah.
Meraih tangan, menopang dagu yang tak terkendalikan.
Gelora yang berkecamuk di dalam sukma.
Seperti api berteriak di dalam sekam.

Seruan dari dalam. Lolong panjang pemberi pertanda.
Tak jua mengerti. Sedang pikir semakin jauh menepi.
Dari sebuah ruang yang bernama Hati.
Ku bungkus kasih berbalut sayang.
Ku lemparkan ke tengah lautan.
Biar jauh di bawa pergi.
Hingga tiba di peraduan terakhir.


Bandung, 7 November 2012.

Rabu, 05 Desember 2012

Ego

"Kau saja marah, dikala burung tak bernyanyi lagi.
Di kala tak ada alunan di pagi buta.
Bagaimana dengan aku?
Menjamahmu dalam hening.
Sedang kau riuh dalam dunia mu sendiri.
Seperti tak tak terjelmakan kah aku olehmu?
Pun aku, bagaimana tidak ternaikkan pitam menghitam dalam dada?
Ketika riuh nada bersahut-sahutan tak ada syair yang kau naikkan.
Malam merindumu. Mendengar senandung di bawah temaram rembulan.
Begitupun aku. Merindumu. Merindu lafasmu."

Panggung Sandiwara

dan aku mulai gelagapan
dengan kertas-kertas buram yang berserakan.
mengapa tak kau tanggalkan saja kasutmu
dan kita mulai bermain peran?

Apa peduli dengan kata orang.
Omong kosong dengan petuah.
Tak usah hirau burung gereja bernyanyi.
Telan bersama darah hingar bingar.

Laut dan tanah saja mencibir.
Sudah masuk saja dalam panggung hitam.
Pun orang tak mengenalmu.
Mainkan saja peran.
Mulai kumandangkan narasi.

Sandiwara sudah kau kenakan?
Kepalsuan sudah kau pasang erat?
Mari, marilah.
Kertas kertas buram menganga.
Peran ini memang pantas buatmu. 

Gegaskan.
Panggung sudah penuh keluh, gundah, tawa, dan maki.
Lakon kan peranmu.
Ini panggung Sandiwara.
Jangan adukan dengan duniamu.

Ini panggung Sandiwara.
Sandiwara menjadi Sutradara.
Siap kah kau bermain?
Peran ini memang pantas buatmu. 


Bandung, 5 Desember 2012



Senja di Ujung Langit


Lamat-lamat bayangmu menghilang|
Mencari tak menemuka. |
Kau lupa? |
Kita berjanji pada senja di ujung langit |
Menggenggam pasir puith |
Bersama 39 detik lembayung jingga merekah.

Memabukkan |
Melupakan |
Melupakan janji |

Janji yg terkunci bersama senja di ujung langit |
Menyusuri tepian pantai. |
Sedang bayangmu hampir memudar. |
Ak sendiri. |

Janji manusia semu |
Pun demikian senja di ujung langit |
Semu |
Memudar hilang.

Tak jua ak lelah dlm semu. |
Ku rekatkan diri pd senja di ujung langit |
Melebur dlm kesemuan |
Dipeluk jingga brcmpur deru ombak. |

Kegilaan |
Berharap pada semu |
Kecewa pada Senja di ujung langit tenggelam |
Menghilang. |
Di telan malam. |
Sedang ak masih sendiri brsm bayangmu yang retak bersatu dgn pasir pantai.
Menghilang |
Mentari pagi belum berwujud |
Tersesat di pekatnya gelap. |

Dalam kerangka petang yang menjerat. |
Senja di ujung Langit melepas hari. |
Malam menjemput gelap. |
Pagi menanti terang. |
Menunggu |
Tak mampu berjalan |
Tersesat |
Sampai menghilang. |

Biarlah berakhir pada kesudahannya. |
Biarlah 39 detik kebersamaan lepas bersama kenangan. |
Kenangan abadi dalam hati |

Senja di Ujung Langit..


Bandung, November 2012

Senin, 03 Desember 2012

Air dan Api

Air tidak akan menyulut api.
Sebelum bara menghantam lara.
Relakan api terbang bersama tiupan angin.
Biar kembali beriak bersama air tenang.

Bukan tak mau beraksi.
Menikam gelombang yang dalam.
Hanya saja tak jua rela
Melihat debu lelah ketika api tak kunjung diam. 

Api berkobar, menebar bau segala penjuru.
Meninggalkan abu yang tak sempat besalaman
dengan bara yang asik bertiupan dengan angin.

Tak jua lelah.
Sampai habis raga disapu debu yang menghitam.
Menuggu pancaran yang menenangkan gundah. 

Biar, biarkan kita bersatu.
Dalam air dan api.
Seperti riak dan asap.
Tak akan berhenti ketika berdua-dua saling beradu...


Bandung, 4 Desember 2012