Kita bebas!
Serukan erat dalam
nadimu.
Bukan dengan ikatan
bazoka yang mengarat.
Bukan dengan dentuman
senapan yang memburu.
Kita bebas!
Suarakan sampai
bergema.
Biar luruh segala
gentar.
Ini
era berbeda.
Bambu
sudah usang, mungkin saja sudah diabadikan.
Kita
tak butuh perang untuk menang.
Kita
tak perlu darah untuk bertahan.
Kita
perlukan kekuatan untuk bangkit.
Berguru pada sejarah
yang menghitam.
Meninggalkan nafas. Pun
berlari mengejar.
Kita masih punya pena
dan carikan kertas.
Walau hampir mengusang.
Pengganti bambu runcing
untuk hidup.
Percuma merah mengalir
bersama darah.
Putih menancap lekat
pada daging.
Jika jiwa tak ada ubah
dengan bangsa tindasan.
Kita
bebas!
Menyuarakan
suara. Mengumandangkan diri kita.
Jangan
mau ditindas dalam kekalahan.
Kita
bebas!
Bebas
bercerita. Mengangkat muka. Berderajat dalam barisan.
Memandang
dunia. Menjadi besar di dalamnya.
Jangan lengah dalam
abad yang semakin mendera.
Di manja zaman yang tak
menentu kalang.
Pun terlupakan segala
sirna menyembunyikan lara.
Kita masih punya utang
yang tak terlunaskan.
Membuka tanah, menanam
benih untuk dituai.
Jangan
kalah dengan era ini.
Sisihkan
ruang menderu dalam udara.
Bukakan
rongga untuk menghembuskan kebebasan.
Sura-sura
asing bisa mencekik.
Mematikan
langkah.
Lepaskan saja peluru ke
angkasa.
Biar asa ditebar dalam
haru biru yang menganga.
Biar gemuruh menandai
kegilaan.
Biar tanah bergetar
oleh derap langkah serdadu masa kini.
Karena kita bebas!
Kita bebas dalam dunia.
Bandung, 2012
Octavia Nasution.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar