Kamis, 10 Januari 2013

Lembaran 2012

JANUARI
1. Adakah yang lebih indah dibanding satu masa yang dengan sempurna ku lewati bersama-Mu? Di tempat dalam waktu yang berbeda. Semuanya seperti terulang kembali. Sekejap mata. Aku sudah sampai diwaktu yang baru ini. Gemintang dalam hamparan kelam menjadi kunci membuka masa baru yang telah terbentang di hadapanku. Sampai sejauh ini, aku terdampar dalam ruang yang bahkan aku sendiri tidak tau akan seperti apa serangkaian kisah yang terjadi nantinya. Akan seperti apa cerita-cerita yang kita tulis di depan sana. Satu hal yang aku genggam, keyakinan dan kepercayaan ini menenggelamkan segala khawatir yang terlanjur merongrong jiwa. Tidak akan ada yang salah sebab segalanya sempurna di dalam Dia. Aku membuka masa yang baru, pertanda bahwa aku SIAP untuk sesuatu yang sudah dipersiapkan untukku. Apapun itu. Bukankah semua proses menuntut kesediaan kita untuk menjalaninya? Selamat datang 2012. Bersahabatlah dengan gadis setengah matang ini. Bersama kita melaju seperti tahun2 sebelumnya. Aku SIAP. Tuhan memberkati. [satu pembukaan yang indah, Bandung, 1st January 2012]
2. Ini seharusnya menjadi pembuka yang manis. Tapi tidak untuk awal ini. Air mata menjadi kado indah yang diselipkan di tengah tawa yang riuh. Waktu berlalu namun tidak untuk perkara yang memang masih bertahan. Masa ini masih membawa luka-luka lama dari masa yang lalu. Seharusnya semua sudah jauh tertinggal di ujung sana. Seharusnya dia diam dan tidak berakar sampai ke masa ini. Seharusnya semua tidak seperti ini. [Bandung, the saddest opening year 2012]
3. Malam ini. Kembali pekat menghentakkan semua lamunan yang menggantung dalam angan-angan. Suara yang tegas pun pasti yang terdengar lembut menyimpan sejuta harapan yang dinanti-nanti mula pertama menjejakkan kaki di ranah ini. Banyak harga yang harus dibayar, banyak janji yang harus dipenuhi. Tak hanya dalam lingkar mimpi, secepatnya semua akan digenggam bersama asa yang telah disediakan waktu. -5 Januari 2012
4. Saling memberi. Saling menerima. Saling melengkapi. Indah bukan? Kokoh dalam satu jalinan, kuat dalam satu ikatan. Semakin sempurna. Begitulah seharusnya. Tidak ada yang terlewatkan dalam dekapan, semua tetap dalam satu rantai yang tak terpisahkan. Bersama itu indah bukan? Begitulah seharusnya.-6 Januari 2012
5."Sudahlah lama aku tidak menyuratkan ini. Pagi-pagi tadi Langit bersusun batu-batu awan dalam komposisi puzzle yang indah. Langit selalu dalam balutan biru nya memesonakan wanita setengah matang ini. Selalu memberi ruang untuk setiap lepasan nafas, meyakinkan langkah untuk terus melaju. Tidak pernah salah. Kejeliaannya melihat segala sesuatunya memukau. Tidak pernah salah. Ketelitian untuk tetap menganalisa segala yang terjadi selalu akurat. Sempurna ketika malam menutup nya perlahan, dan hujan menjadikannya bening. Langit, sudah lama aku tidak bersenandung. Waktu-waktu menjepit, hari-hari mengejar. Adakah kau selalu di sana untukku bukan?" -16 Januari 2012
6. "Lebih tenang menyikapinya, harap seperti itu. 5 tahun dalam liku yang sama, seharusnya kita sudah kebal, lebih kuat, lebih tangguh. Tidak seperti ini. Namun memang, kekuatan manusia ada batasannya. Ini hanya sebuah proses, katakanlah proses yang sangat panjang maka dibutuhkan waktu yang panjang dan berlipat2 kesiapan diri untuk mampu melewatinya. Begitu bukan? Air mata hanya segelintir hal kecil untuk membuang sesak, mengalirkan segala yang tertahan. Jika hal-hal itu semua masih berada dalam lingkar kemampuan, maka itu semua tak lebih besar dari dirimu sendiri."-18 Januari 2012
7.Bertemu pagi -lagi-. Pertanda satu hari luar biasa telah ditutup berganti dengan pembuka hari yang baru. Pagi, selalu menjadi terabaikan, terjepit di antara kesibukan yang mampu meniadakaannya. Bertemu pagi -lagi- sama halnya dengan membuka langit biru, memisahkan gelap dengan terang, berkicau bersama teriknya. Bertemu pagi, bersiap untuk kejutan2 di hari ini.-23 Januari 2012
8. Januari di atas Senja. Dalam waktu-waktu yang menekan. Menindas. Januari masih tetap di atas Senja.-24 Januari 2012
9. Menikmati sendiri. Semangkuk suguhan yang aku tanam dalam benih-benih kosong. Cicip segala rasa, aku telan sendirian. Tidak perlu kau dalam cerita ini.-25 Januari 2012
10. Kali ini, tak ada Jingga. Angin dan mendung berkelakar menggantikannya. Tak kalah memesona. Selalu, Langit dengan sejuta cerita mampu membuat penghujung hari indah, mejadikannya berbeda disetiap waktu. :)-25 Januari 2012
11. Pagi menjadi sempurna ketika fajar dan embun menyapa. Lembut dalam balutan semilir angin pagi. Membekukan. Namun pagi tetap pagi dengan sejuta semangat yang disiapkan untuk jiwa-jiwa kuat.-26 Januari 2012
12. Modal kehidupan. Berbagai kisah dan rasa yang ditimbulkan oleh waktu. Menjadikan diri peka dan mengenal hidup. Pengalaman menjadi guru dan orang-orang sekitar menjadi pucuk pelajaran. Banyak melihat, banyak merasa, banyak belajar. Hidup ini indah ternyata. Seindah2 orang yang menghargai hidupnya.-26 Januari 2012
13. Bukan masalah melupakan, namun bagaimana kau mampu berdamai dengan hatimu, bergelut dengan sesak nafas yang merongrong dadamu. Sedikit saja melihat bahwa semua sudah jauh tertinggal. Tidak ada yang harus dilupakan atau dilewatkan atau bahkan dihapus, karena satu hal sudah ada dalam satu kenangan, terbungkus rapat. Lalu tak ada hak lagi untuk mencabut satu peran dalam cerita ini bukan? Bagaimana pun ada cerita yang pernah dirangkai bersama. Meski sudah usang bukan berarti harus lenyap kan? Hanya saja, menerima satu hal bahwa tak ada lagi cerita yang harus diukir bersama.-27 Januari 2012
14. Mari bermain. Di antara pasir-pasir putih. Dan gelombang panjang menggantung di udara. Menggurat cerita di antara riak-riak bening riuh air.-30 Januari 2012
15. Satu hal. Ternyata untuk menjadikannya indah, wajibkan ada ketegangan sengit diantaranya. Menbuat dada semakin gencar, membuat arena ini tidak biasa-biasa saja. Ada harga mahal yang harus dibayar.-30 Januari 2012
16. Tidak mendominasi namun lihai bermain dalam arena. Mencari jejak, menangkap peluang, memenangkan kesempatan. Walau bukan yang terutama, tidak diam, gesit menjadi kuncinya. Terpukau. :-)-30 Januari 2012
17. Bernafas satu-satu. Taukah bagaimana sesak yang ditimbulkannya? Ketika bangun dan mendapati embun tak lagi basah. Mengering. Tersesat di dalam riuh kicauan empunya pagi. Mohonkan pada fajar untuk mendekap. Mengaliri hangatnya di tengah kebekuan pagi. Aah, hari-hari ini mohonkan berlalu walau desir angin membanting jiwa.-31 Januari 2012
18. Malam yang indah. Sempurna. Sedikit lebih dekat dengan Semesta. Duduk bersimpuh beralas desahan tanah. Baunya menusuk, merasuki paru-paru. Ke atas. Menatap langit, bertaburan bintang sekeliling Empunya malam. Sungguh ingin berbaring lebih lama. Beralas tanah beratap langit dalam dekapan angin malam. Dingin tidak terhinggaaa. Akan kah ada malam seperti malam-malam ini?-31 Januari 2012

Februari
1. Aku berlari. Kali ini ilalang menahan langkahku, menangkap tiap tapak yang hendak dilalui. Tak ada ruang untuk berlalu. Bernafas setengah2 sampai hilang dalam pekat malam.-2 Februari 2012
2. Tenggelam bersama malam. Larut dalam riuh ruah cuap-cuap tak bermakna. Malam ini, sungguh tak akan terlupakan. Hilang dalam letih, lenyap dalam pekat malam. Perlahan hitam meninggi dan semilir angin memudar.-2 Februari 2012
3. "Ayo kita berlari di pinggiran Senja. Sebelum hari meredup dan malam datang. Menikmati 49 detik, sebelum benar-benar layu. Berteriak pada pohon-pohon di sekitar, menghempaskan segala tekanan sampai habis. Sehingga tidak ada sesak lagi di dalamnya. Ayo kita berlari kepelukan Senja, mungkin saja esok hari dia tidak datang dan tak ada jingga untuk di dekat."-4 Februari
4. Karya-karya lama yang hampir punah. Cerita yang sarat akan kebenaran-kebenaran yang juga akan lenyap jika tidak dipertahankan. Kebenaran yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang kelam. Kebenaran yang membawa dampak besar pada kehidupan masa kini. Banyak lakon yang terabaikan. Bagaimana tidak punah? Seperti dijejal di pinggiran tanah, sampai bau tanah pun dia tak pernah tersentuh.-6 Februari 2012
5. Suara pertama pagi ini. Mama. Yang selalu setia dengan sapaan khas di pagi2 buta. Dengan semangat yang selalu membara dalam dada, yang selalu dengan segala caranya yang manis dialirkan padaku. Naluri kuat yang pernah dimiliki menjembatani jarak yang terbentang luas. Khawatir menjadi ciri bahwa aku tak pernah luput dari perhatian. Mama sayang, aku rindu. Di waktu-waktu seperti ini ketika semua menuntut keakuan ku untuk bertindak, untuk melangkah. Aku tau sepersen pun dukunganmu tak pernah lenyaaaap. Tak pernah pupus. Aaah Mama, aku rindu serindu-rindunya dirimu padaku.-11 Januari 2012
6. Tetes pertama dihari ini. Basah. Menggenang pada sepetak tanah berpayung ilalang. Anak-anak bermain dalam rinai hujan. Menanggalkan baju. Meninggalkan kediriannya. Kepolosannya menjadi bulan-bulanan air hujan yang tumpah riuh menutupi aurat-aurat jiwa. Hujan pertama disiang ini. Guruh gemuru serupa langit tersedu. Sedu sedan menyatu dalam kilatan siluet merah, sedang awan bertahan dalam kepulan kelamnya. Hujan pertama di minggu ini, dan aku menangis.-12 Februari 2012.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar