Lembaran 2012
JANUARI
1. Adakah
yang lebih indah dibanding satu masa yang dengan sempurna ku lewati
bersama-Mu? Di tempat dalam waktu yang berbeda. Semuanya seperti
terulang kembali. Sekejap mata. Aku sudah sampai diwaktu yang baru ini.
Gemintang dalam hamparan kelam menjadi kunci membuka masa baru yang
telah terbentang di hadapanku. Sampai sejauh ini, aku terdampar dalam
ruang yang bahkan aku sendiri tidak tau akan seperti apa serangkaian
kisah yang terjadi nantinya. Akan seperti apa cerita-cerita yang kita
tulis di depan sana. Satu hal yang aku genggam, keyakinan dan
kepercayaan ini menenggelamkan segala khawatir yang terlanjur merongrong
jiwa. Tidak akan ada yang salah sebab segalanya sempurna di dalam Dia.
Aku membuka masa yang baru, pertanda bahwa aku SIAP untuk sesuatu yang
sudah dipersiapkan untukku. Apapun itu. Bukankah semua proses menuntut
kesediaan kita untuk menjalaninya? Selamat datang 2012. Bersahabatlah
dengan gadis setengah matang ini. Bersama kita melaju seperti tahun2
sebelumnya. Aku SIAP. Tuhan memberkati. [satu pembukaan yang indah,
Bandung, 1st January 2012]
2. Ini
seharusnya menjadi pembuka yang manis. Tapi tidak untuk awal ini. Air
mata menjadi kado indah yang diselipkan di tengah tawa yang riuh. Waktu
berlalu namun tidak untuk perkara yang memang masih bertahan. Masa ini
masih membawa luka-luka lama dari masa yang lalu. Seharusnya semua sudah
jauh tertinggal di ujung sana. Seharusnya dia diam dan tidak berakar
sampai ke masa ini. Seharusnya semua tidak seperti ini. [Bandung, the
saddest opening year 2012]
3. Malam
ini. Kembali pekat menghentakkan semua lamunan yang menggantung dalam
angan-angan. Suara yang tegas pun pasti yang terdengar lembut menyimpan
sejuta harapan yang dinanti-nanti mula pertama menjejakkan kaki di ranah
ini. Banyak harga yang harus dibayar, banyak janji yang harus dipenuhi.
Tak hanya dalam lingkar mimpi, secepatnya semua akan digenggam bersama
asa yang telah disediakan waktu. -5 Januari 2012
4. Saling
memberi. Saling menerima. Saling melengkapi. Indah bukan? Kokoh dalam
satu jalinan, kuat dalam satu ikatan. Semakin sempurna. Begitulah
seharusnya. Tidak ada yang terlewatkan dalam dekapan, semua tetap dalam
satu rantai yang tak terpisahkan. Bersama itu indah bukan? Begitulah
seharusnya.-6 Januari 2012
5."Sudahlah
lama aku tidak menyuratkan ini. Pagi-pagi tadi Langit bersusun
batu-batu awan dalam komposisi puzzle yang indah. Langit selalu dalam
balutan biru nya memesonakan wanita setengah matang ini. Selalu memberi
ruang untuk setiap lepasan nafas, meyakinkan langkah untuk terus melaju.
Tidak pernah salah. Kejeliaannya melihat segala sesuatunya memukau.
Tidak pernah salah. Ketelitian untuk tetap menganalisa segala yang
terjadi selalu akurat. Sempurna ketika malam menutup nya perlahan, dan
hujan menjadikannya bening. Langit, sudah lama aku tidak bersenandung.
Waktu-waktu menjepit, hari-hari mengejar. Adakah kau selalu di sana
untukku bukan?" -16 Januari 2012
6. "Lebih
tenang menyikapinya, harap seperti itu. 5 tahun dalam liku yang sama,
seharusnya kita sudah kebal, lebih kuat, lebih tangguh. Tidak seperti
ini. Namun memang, kekuatan manusia ada batasannya. Ini hanya sebuah
proses, katakanlah proses yang sangat panjang maka dibutuhkan waktu yang
panjang dan berlipat2 kesiapan diri untuk mampu melewatinya. Begitu
bukan? Air mata hanya segelintir hal kecil untuk membuang sesak,
mengalirkan segala yang tertahan. Jika hal-hal itu semua masih berada
dalam lingkar kemampuan, maka itu semua tak lebih besar dari dirimu
sendiri."-18 Januari 2012
7.Bertemu
pagi -lagi-. Pertanda satu hari luar biasa telah ditutup berganti
dengan pembuka hari yang baru. Pagi, selalu menjadi terabaikan, terjepit
di antara kesibukan yang mampu meniadakaannya. Bertemu pagi -lagi- sama
halnya dengan membuka langit biru, memisahkan gelap dengan terang,
berkicau bersama teriknya. Bertemu pagi, bersiap untuk kejutan2 di hari
ini.-23 Januari 2012
8. Januari di atas Senja. Dalam waktu-waktu yang menekan. Menindas. Januari masih tetap di atas Senja.-24 Januari 2012
9. Menikmati
sendiri. Semangkuk suguhan yang aku tanam dalam benih-benih kosong.
Cicip segala rasa, aku telan sendirian. Tidak perlu kau dalam cerita
ini.-25 Januari 2012
10. Kali
ini, tak ada Jingga. Angin dan mendung berkelakar menggantikannya. Tak
kalah memesona. Selalu, Langit dengan sejuta cerita mampu membuat
penghujung hari indah, mejadikannya berbeda disetiap waktu. :)-25 Januari 2012
11. Pagi
menjadi sempurna ketika fajar dan embun menyapa. Lembut dalam balutan
semilir angin pagi. Membekukan. Namun pagi tetap pagi dengan sejuta
semangat yang disiapkan untuk jiwa-jiwa kuat.-26 Januari 2012
12. Modal
kehidupan. Berbagai kisah dan rasa yang ditimbulkan oleh waktu.
Menjadikan diri peka dan mengenal hidup. Pengalaman menjadi guru dan
orang-orang sekitar menjadi pucuk pelajaran. Banyak melihat, banyak
merasa, banyak belajar. Hidup ini indah ternyata. Seindah2 orang yang
menghargai hidupnya.-26 Januari 2012
13. Bukan
masalah melupakan, namun bagaimana kau mampu berdamai dengan hatimu,
bergelut dengan sesak nafas yang merongrong dadamu. Sedikit saja melihat
bahwa semua sudah jauh tertinggal. Tidak ada yang harus dilupakan atau
dilewatkan atau bahkan dihapus, karena satu hal sudah ada dalam satu
kenangan, terbungkus rapat. Lalu tak ada hak lagi untuk mencabut satu
peran dalam cerita ini bukan? Bagaimana pun ada cerita yang pernah
dirangkai bersama. Meski sudah usang bukan berarti harus lenyap kan?
Hanya saja, menerima satu hal bahwa tak ada lagi cerita yang harus
diukir bersama.-27 Januari 2012
14. Mari
bermain. Di antara pasir-pasir putih. Dan gelombang panjang menggantung
di udara. Menggurat cerita di antara riak-riak bening riuh air.-30 Januari 2012
15. Satu
hal. Ternyata untuk menjadikannya indah, wajibkan ada ketegangan sengit
diantaranya. Menbuat dada semakin gencar, membuat arena ini tidak
biasa-biasa saja. Ada harga mahal yang harus dibayar.-30 Januari 2012
16. Tidak
mendominasi namun lihai bermain dalam arena. Mencari jejak, menangkap
peluang, memenangkan kesempatan. Walau bukan yang terutama, tidak diam,
gesit menjadi kuncinya. Terpukau. :-)-30 Januari 2012
17. Bernafas
satu-satu. Taukah bagaimana sesak yang ditimbulkannya? Ketika bangun
dan mendapati embun tak lagi basah. Mengering. Tersesat di dalam riuh
kicauan empunya pagi. Mohonkan pada fajar untuk mendekap. Mengaliri
hangatnya di tengah kebekuan pagi. Aah, hari-hari ini mohonkan berlalu
walau desir angin membanting jiwa.-31 Januari 2012
18. Malam
yang indah. Sempurna. Sedikit lebih dekat dengan Semesta. Duduk
bersimpuh beralas desahan tanah. Baunya menusuk, merasuki paru-paru. Ke
atas. Menatap langit, bertaburan bintang sekeliling Empunya malam.
Sungguh ingin berbaring lebih lama. Beralas tanah beratap langit dalam
dekapan angin malam. Dingin tidak terhinggaaa. Akan kah ada malam
seperti malam-malam ini?-31 Januari 2012
Februari
1. Aku
berlari. Kali ini ilalang menahan langkahku, menangkap tiap tapak yang
hendak dilalui. Tak ada ruang untuk berlalu. Bernafas setengah2 sampai
hilang dalam pekat malam.-2 Februari 2012
2. Tenggelam
bersama malam. Larut dalam riuh ruah cuap-cuap tak bermakna. Malam ini,
sungguh tak akan terlupakan. Hilang dalam letih, lenyap dalam pekat
malam. Perlahan hitam meninggi dan semilir angin memudar.-2 Februari 2012
3. "Ayo
kita berlari di pinggiran Senja. Sebelum hari meredup dan malam datang.
Menikmati 49 detik, sebelum benar-benar layu. Berteriak pada
pohon-pohon di sekitar, menghempaskan segala tekanan sampai habis.
Sehingga tidak ada sesak lagi di dalamnya. Ayo kita berlari kepelukan
Senja, mungkin saja esok hari dia tidak datang dan tak ada jingga untuk
di dekat."-4 Februari
4. Karya-karya
lama yang hampir punah. Cerita yang sarat akan kebenaran-kebenaran yang
juga akan lenyap jika tidak dipertahankan. Kebenaran yang selama ini
hanya menjadi bayang-bayang kelam. Kebenaran yang membawa dampak besar
pada kehidupan masa kini. Banyak lakon yang terabaikan. Bagaimana tidak
punah? Seperti dijejal di pinggiran tanah, sampai bau tanah pun dia tak
pernah tersentuh.-6 Februari 2012
5. Suara
pertama pagi ini. Mama. Yang selalu setia dengan sapaan khas di pagi2
buta. Dengan semangat yang selalu membara dalam dada, yang selalu dengan
segala caranya yang manis dialirkan padaku. Naluri kuat yang pernah
dimiliki menjembatani jarak yang terbentang luas. Khawatir menjadi ciri
bahwa aku tak pernah luput dari perhatian. Mama sayang, aku rindu. Di
waktu-waktu seperti ini ketika semua menuntut keakuan ku untuk
bertindak, untuk melangkah. Aku tau sepersen pun dukunganmu tak pernah
lenyaaaap. Tak pernah pupus. Aaah Mama, aku rindu serindu-rindunya
dirimu padaku.-11 Januari 2012
6. Tetes
pertama dihari ini. Basah. Menggenang pada sepetak tanah berpayung
ilalang. Anak-anak bermain dalam rinai hujan. Menanggalkan baju.
Meninggalkan kediriannya. Kepolosannya menjadi bulan-bulanan air hujan
yang tumpah riuh menutupi aurat-aurat jiwa. Hujan pertama disiang ini.
Guruh gemuru serupa langit tersedu. Sedu sedan menyatu dalam kilatan
siluet merah, sedang awan bertahan dalam kepulan kelamnya. Hujan pertama
di minggu ini, dan aku menangis.-12 Februari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar