lihat, setiap untaian larik2 yang ku gurat.
ada kekuatan di dalamnya.
semua menjadi satu, ku kumpul dalam berkas-berkas bernada merdu.
lihat, mereka hidup bukan?
menari dalam satu formasi indah.
lalu apalagi yang mampu menandinginya?
rasakan, mereka berbicara
dalam potongan-potongan kata menjadi satu alunan tanpa suara.
Lalu
seperti ini yang kau sebut cinta. Lajang tak beradab. Serbuk2 kasih
yang bertebaran di mukamu. Seperti itu yang kau sebut sayang?
Kotoran-kotoran sampah tampak jelas di matamu. Peduli apa? Kau sangat
menjijikkan. [Senjaku redam ditelan malam]
Haru
biru. Membumbung tinggi di angkasa. Aurora yang indah. Menggetarkan
nadi. Hamparan biru menjadi taburan mimpi. Doa ini sampailah ke Langit.
[biru biru penuh haru]
Perjalanan
ini ku lakoni sendirian. Di ranah ini aku meniti segalanya, jatuh
bangkit menjadi cerita indah untuk satu lembar yang panjang. Selalu.
Dari jauh meski samar, guratan senyum manis itu mampu menjadi teman yang
paling setia. Aku merindumu.
Mam,
terimakasih untuk sebesar-besar rasa khawatir yang kau tumpahkan
padaku. Untuk cinta kasih yang tidak pernah kering, yang selalu mengalir
padaku. Terimakasih untuk segala sesuatunya yang selalu berlimpah
dalamku, yang tidak akan ku temukan dari tempat yang paling indah
sekalipun. Karena di atas segalanya, engkaulah yang terindah.
Terimakasih Mam. Tuhan memberkatimu. Love you. *your beloved daughter.
Aku
mengenalmu lewat sepenggal larik yang kau tinggalkan di ranah ini.
Berteman kata-kata itu aku menghabiskan hariku. Melewatkan setiap waktu,
mendekapnya erat dalam selembar Maple yang mengusang.
Aku
tidak tau sejak kapan ini bermula. Namun pesonamu terlanjur bersemi di
antara kelopak-kelopak mekar yang menari bersisian di dalam ruangku.
Perlahan dia masuk dan berakar diam di dalam sendu.
Maka izinkan aku mengumpulan semua kekuatan dari 4 elemen itu untuk membantumu
menghapus rasa sakit mu yang sangat mendalam itu? Mungkin air bisa
membawanya pergi bermuara ke samudera luas lalu tenggelam sampai
kedasarnya. Udara akan membawanya terbang menembus jagad dan hilang
ditelan senjata luar angkasa. Tanah akan menguburnya dalam-dalam dan kotoran2
tanah akan menguraikannya. Dan api membakarnya menjadi debu. Semuanya
menjadi bagian yang tidak kau kenali dan perlahan mengahpus lukamu.
Bolehka aku? ^_^
Hari
semakin meredup. Malam membawanya ke dalam perduan terakhir. Masih
seperti kemarin. Tidak ada yang istimewa, bahkan langit masih dibendung
kelamnya abu. Namun kau menjadikannya indah. *merindu Senja. Gbu ^_^
Mendung,
lalu hujan menguburnya dalam bersama genangan air di tepian danau itu.
Merekat kuat bersama kenangan, semua lebur dalam rinainya yang merdu.
Dan langit menyaksikan segalanya. Semua disimpan dalam birunya.
Benar.
Dia masih utuh di dalam sini. Belum tersentuh dan tidak ada yang
sesempurna, sungguh-sungguh memampukanku untuk menempatkannya dalam
ruang yang tepat. Belajar dengan sekitar, belajar melihat segalanya
dalam formasi yang sederhana.
kusembahkan untuk kamu sekalian :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar