Rabu, 18 Februari 2015

Abadi, Itulah Kau.

Ku pandang dengan sangat lekat wajah teduh di hadapanku. Ahh kau lagi dan lagi. Wajah yang sama dengan wajah yang aku temui di depan gerbang sekolah dulu. 8 Tahun yang lalu. Kita bertemu dengan malu-malu khas anak sekolah. Wajah yang lugu, seragam yang lusuh menggambarkan kita.

Kini, wajah yang sama menjadi temanku di kamar ini. Teduh mu tidak berubah. Suaramu masih ringan dan nafasmu masih kuat memburu. Masih menjadi kita yang sama. Kita yang memiliki cinta.
Ini ritual keseharian kita sebelum tidur. Kau asik dengan buku tebal dan kaca mata bacamu, sedang aku riya mendengarkan album musik dan sesekali mengganggumu. "Sudah malam. Mata juga butuh istirahat." "Sebentar lagi, Sayang." jawabmu manja.

Aku kembali mendengarkan alunan musik dalam Playlist ku. 1000 Tahun Lamanya Tulus menemaniku. Ku remas tanganmu yang sepertinya tidak menyadari aku ada disampingmu. Ah yaa, buku adalah duniamu, batinku. Ku nikmati malam-malam kita yang sama. Yang semakin manis. Semanis setiap cinta yang tumbuh di dalam kita. Aku berterimakasih kepada cinta yang tumbuh, mekar, dan berkembang di dalam kita. Tidak akan pernah berubah. Seperti kita yang semakin menua dan saling menumbuhkan cinta.

Entah sudah berapa lembar yang habis kau lahap. Tidak menyadari malam yang semakin larut. Sayang, kataku dalam hati seraya menatap gurat wajahmu yang masih kuat, aku berdialog dengan diriku sendiri. Akan apa yang terjadi nanti kita tidak paham. Aku tau tanganmu akan erat menggenggam tanganku, dan pelukmu tidak akan pernah lepas. 

Abadi, Itulah kau.


Untuk Kau yang tidak pernah berhenti mencinta.



Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti 
program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com#TiketBaliGratis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar