Terimakasih sudah menyediakan wadah bagiku.
Kali ini aku ingin bercerita. Sebentar saja. Tak peduli kau acuh. Tak peduli mungkin kau pongah setelah melahapnya. Kali ini bole aku curhat. Di luar sesak, barangkali di dalam sini ada teduh bagiku.
Terimakasih sudah menjadi sandaranku.
Aku ingat di siang kemarin. Dia menamparku -lagi-.
Tamparan itu. Tamparan lembut nun tajam kedua kali singgah dalam dadaku. Sesak kedua. Lebih pahit dari hari sebelumnya. Bukannya aku tidak ingin teriak, tangis, jerit. Aah bodoh sekali aku kelihatan lemah di depanmu wanita pongah.
5 tahun kelak kita bertemu katanya, mungkin saja kau akan jadi makanan jalanan atau tuan terhormat. 5 tahun kelak katanya. 5 tahun kelak aku akan menjumpaimu. Tidak peduli akan seperti apa aku jadinya. 5 tahun kelak. AKU IKAT RAPAT, KUNCI MATI PERCAKAPAN MU TADI SIANG, WANITA PONGAH yang aku tidak sengaja bertemu denganmu di ranah ini. Yang aku tidak tahu Tuhan ada rencana apa hingga pertemukan aku dengan wanita paruh baya yang teramat pongah itu.
Terimakasih sudah menyilakan aku untuk berucap-ucap. Terimakasih. Ini kali keberapa aku meniggalkan ranah itu. Kembali ke kota ini. Aku terikat dengan percakapan kemarin siang. Aaah, mengusik ku sekali. Ntah apa yang berputar-putar dalam kepalaku, tapi semua pada satu poros yang sama, pusat yang tak jauh berbeda. Masih dengan percakapan kemarin siang. Entahlah, yang jelas sempurna dia menguasai seluruh jagad pikirku. Aku diam. Beku juga dalam pikirku sendiri. Seorang-orang ku dalam keakuanku. Mengejewantahkan diri agar lebur dalam percakapan kemarin siang. AAh kau wanita pongah terlalu pongah, memaksa aku berlari, bersesak dalam juang, luruh bersama mimpi. Wanita pongah ku akui kau hebat.
Ini ucap terimakasih yang terakhir. Terimakasih sekali lagi sudah membaca curhatan yang tak berarti ini. Penuh lirih sebenarnya jika kau menyerapnya. Semoga segala rasa tercipta dalammu ketika meliriknya.
Bandung, 12 Mei 2012
salam manis
sajak tanpa nada, pecinta langit :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar